karang itu pernah menenggelamkan

Tiga tahun lalu, layaknya sebuah perahu, aku pernah berlayar.. Dinaiki oleh orang-orang yang kukasihi. Para sahabat dari negeri seberang. Mereka mempercayaiku untuk membawa mereka ke pantai indah dengan segala iringan nyanyian persahabatan dan persaudaraan yang membahagiakan.

 

Sepanjang perjalanan, hembusan angin yang harum membantuku mendekati pantai tujuanku. Para sahabat didalamku menikmati berbagai macam makanan yang nikmat, minuman yang segar, dan buah-buahan yang manis seperti manisnya perjalanan persahabatan kami.

 

Sesekali angin sedikit lebih kencang, menghantam perahu kecil ini, tapi karena para sahabat yang menaikiku mendukung dengan setiap doa, aku tetap melaju di laut yang tenang. Sesekali badai kecil datang, namun semua tetap terlampaui. Semua ini karena cinta para sahabat yang mempercayaiku.

 

Pada suatu hari, aku merasa lelah, awak perahuku membuang sauhku untuk sejenak mengistirahatkan tubuhku yang lelah mengarungi lautan. Para shabat beristirahat pada sebuah pulau yang teduh. Dari pulau itu, tampak sebuah pulau karang yang indah, gagah, dan mempesonaku. Seolah ia memanggilku untuk membuang sauhku disana. Namun aku tahu, karang itu tetaplah karang.Ia berbahaya.

 

Para sahabat kembali menaikiku. Mereka tahu, aku terus mengagumi pulau karang dihadapanku, dan mereka memperingatkanku.

“Jangan kesana, itu akan berbahaya untukmu. Ia akan menghancurkanmu, dan menenggelamkanmu.” kata salah satu sahabatku..

“Iya, jangan kesana, carilah jalur lain, atau kita akan terpisah, hancur dan pecah berantakan” kata sahabatku satu lagi..

Aku tak menghiraukan mereka. Aku terus melaju kearahnya. Semakin dekat, aku semakin terpesona oleh kekokohannya. Ketika para sahabatku ketakutan, aku justru berkata dalam hatiku “tenanglah, karang itu akan melindungimu dari terjangan ombak ganas sekalipun”

Aku mendekatkan tubuhku hati-hati ke pulau karang itu. Sesaat, karang itu berkata padaku

“Jangan percaya pada mereka, percayalah padaku, aku aka menjagamu disini. Melindungimu dari hempasan ombak yang akan melukaimu”

Aku semakin mendekatkan badan perahuku padanya. Tak peduli apa kata mereka padaku. Mereka terus berteriak memintaku segera berlayar. Tetapi tidak kuhiraukan.

 

Sampai tiba-tiba aku merasakan bahwa badan perahuku mulai terluka karena benturan. Ombak mengehmpasku dan karang itu tidak melindungiku. Para sahabat berusaha menarikku dari karang itu. Tetapi karang itu semakin mencengkeramku.

 

Aku menangis perlahan. Salah seorang sahabat dari jauh menawarkan dirinya untuk menjadi tempatku mengeluh tentang cengkeraman kuatnya. Ia menganggukan kepala seolah meenangkanku dan ikut mengutuk perbuatan karang itu. Perlahan aku berhasil menjauh dari karang itu karena dukungan para sahabatku. Aku lega mereka masih mempercayaiku dan tetap berada di perahuku.

 

Sesaat ketika aku berhasiol menjauh, tiba-tiba karang itu menyuruh angin mendorong air agar menjadi ombak besar dan menghempaskan perahuku mendekatinya. Sangat  kuat hempasannya sampai aku benar-benar dekat pada karang itu. Sangat dekat hingga aku terhempas dari ketinggian ombak, lalu menyentuh karang kokoh itu, kemudian aku sadar bahwa aku telah membunuh para sahabat yang sangat mempercayaiku dan membuat diriku sendiri pecah berantakan. Menjadi keping dan puing kayu yang remuk. Hancur, dan terapun tak tentu arah.

 

Seekor burung camar menghampiri kepinganku. Ia berkata “Percayalah pada sahabatmu, ceritakan pada mereka yang jauh, agar tidak mendekati karang itu. Karang itu akan membunuh siapapun perahu cantik yang mendekatinya. Ia selalu memanggil perahu cantik lainnya ketika ia tahu bahwa perahu yang mendekatinya telah rapuh karena hantaman ombak” lalu ia pergi.

 

Aku terus mengapun. Sampai akhirnya aku bertemu seorang gadis yang sedang berenang. Aku menceritakan kehancuranku, perpecahan dan matinya sahabat-sahabatku karena karang itu. Lalu kukatakan agar ia tidak mendekati karang itu. Ia mengiyakan. aku menjauhi gadis itu terbawa angin, dan …

 

Oh tidak, gadis itu semakin mendekat ke karang kokoh dan kejam itu. Ingin rasanya aku mencegahnya, tapi apa dayaku. Karang itu sama megahnya dimata gadis itu, sama seperti aku pernah melihat kemegahannya dulu.

 

Dari kejauhan aku hanya berdoa ..

“Tuhan Pencipta Alam, Engkau tahu bahwa gadis itu tahu karang itu kejam dan pernah membunuh sahabat-sahabatku, menghancurkan perahuku, memporak porandakan kepercayaan yang diberikan kepadaku, membuag segala asaku. Mengapa sekarang ia bersamanya? Bermain dalam dekapan karang itu? Jika memang karang itu telah menjadi salju, buatlah gadis itu nyaman bersamanya, namun bila karang itu tetaplah karang seperti yang kulihat saat ini, kirimkan perahu gagah kesana untuk menjemput gadis itu meraih mimpinya.. Biarkan aku yang menjadi puing, dan biarkan gadis itu menemui kebahagiannya.. “

 

Entah, apakan Sang Pencipta lam menabulkan permintaanku, namun disetiap ayunan langkahku disapu gelombang, aku berbisik pada angin agar segera gadis itu pergi, karena karang tak pernah berubah menjadi salju…

 

Dedicated to : someone who falling in love with that rockstone.. hope it will be look like a snow for you…

November 22, 2010 at 2:36 pm 1 komentar

dulu, dia temanku

semasa SMU, saya pernah punya seorang pacar, yang (kata teman-teman) cakep, jagoan basket sekolah, dan pintar.. pokoknya (kata temen-temen) pacar saya itu adalah seorang cowok yang disukai beberapa temen saya yang cewek tentunya..

sayangnya, saat itu saya tidak benar-benar memahami arti cinta (monyet).. jadi saya hanya pacaran aja..kalo jaman sekarang mungkin disebutnya sebagai ‘status palsu’, padahal overall si pacar saya ini adalah seorang sahabat yang baik.

Uhmmmm tapi postingan saya kali ini bukan tentang dia, tapi tentang salah satu temannya yang juga menjadi teman saya.

Teman saya ini seorang cowok juga, orangnya aneh kalo saya bilang. Eksentrik. Eh, ga juga ding, hanya saja perilakunya agak aneh, kaya agak hiperaktif gitu menurut saya. Herannya saya justru nyaman kalo cerita ke dia daripada ke pacar saya saat itu. Termasuk cerita waktu mau mutusin pacar saya pun, saya memilih dia untuk dimintai pertimbangan.

Karena mereka kakak kelas, dalam tempo singkat, saya kehilangan jejak para sahabat ini. Yaaa seperti biasa, tahun berganti tahun, lalu tanpa sadar, 7 tahun sudah saya dan para sahabat ini tidak saling komunikasi.

Sampai pada suatu minggu pagi, di kapel dimana saya dan mama saya biasa mengikuti misa ekaristi, mama menyenggol lengan saya dan menunjuk seseorang yang ternyata si sahabat mantan pacar saya semasa SMU yang aneh itu tadi. Totally surprised dibuatnya karena ukuran badannya yang membesar hampir tiga kali lipat. Hmmm… sedikit terkikik saya menunggu ia berbalik, lalu saya menyapanya.

Saling sapa yang sangat singkat saat bertemu beberapa minggu yang lampau, sampai tempo hari, notification di handphone saya berbunyi, ada sebuah mesej dari seorang teman di facebook saya. Ketika saya baca, saya kaget.. (saya tidak akan menuliskan ulang apa isi mesej yang ia kirim pada saya) begini kira-kira mesejnya :

“kamu kok berubah banget ya,,”

setengah tersenyum, pikiran saya menerawang mundur ke masa sekolah saya dulu.

jujur saja saya menganggap masa SMU saya tidak bisa dibilang baik, karena di masa itulah untuk pertama kalinya saya dikecewakan oleh sahabat terdekat saya. dan karena lingkungan pergaulan ‘geng’ perempuan di kelas saya dan ‘geng’ mantan sahabat saya yang akhirnya mengecewakan saya itulah, saya tidak pernah menganggap teman-teman sekolah saya ada dalam kenangan saya.

nah, rupanya mesej salah satu teman saya ini seolah membangunkan saya dan mengingatkan bahwa diantara mereka yang saya anggap mengecewakan, ternyata justru ada seseorang yang tidak pernah saya duga justru pernah memperhatikan saya, dan tidak malu melawan egonya untuk menegur saya duluan..

Hmmm… Tuhan, kalau malam ini ikutan baca postingan saya, saya minta maaf ya karena udah under estimate sama teman-teman saya dulu..

Berkati mereka ya Tuhan, semoga mereka terus mendapatkan penghargaan untuk setiap perhatian mereka.. :)

Juli 17, 2010 at 4:08 pm 2 komentar

Disinilah Peran Seorang Papa

Postinganku kali ini, murni aku ambil dari milis dimana aku jadi salah satu anggotanya. Kenapa aku posting disini, karena memang tulisan ini sudah menitikkan air mataku saat membacanya, dan mungkin akan sangat membantu kita untuk mengerti dimana peran seorang papa dihidup kita…

Silakan baca …

Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suami / istrinya tinggal di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :”Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu. Ketika kamu sudah beranjak remaja….Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia….. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir… Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut. ..Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. . Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?” Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa Ketika kamu menjadi gadis dewasa….Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..Karena Papa tahu…..Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti… Dan akhirnya…. Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat Bahagia! Kemudian Papa berdoa….Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….Bahagiaka nlah ia bersama suaminya…. “

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. Papa telah menyelesaikan tugasnya….

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal apapun.:’)

Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah hingga tugasnya selesai…. Jika kamu mengalaminya, Kamu adalah salah satu orang yang beruntung…

Desember 16, 2009 at 12:50 am 6 komentar

(film kiamat) 2012

Jujur, aku sendiri belum sempat nonton film yang bikin heboh ini. (kok bisa tau bikin heboh?) Ya tau hebohnya tu dari status fb temen kantorku, dia tulis :

BP : Luar biasanya antrinya……untuk menonton film 2012 di Amplas Jogja.

Beberapa temen kantor juga nulis dan cerita hal yang serupa, antri nonton 2012, rencana minggu depan pada mau nonton film yang sama. Tergerak juga aku untuk googling dan cari tau tentang 2012. memang, aku pernah dengar kalo kiamat akan datang di 2012. Tapi kurang puas dengan pengetahuan itu, aku googling juga.

Uhmmmm ternyata kehebohan manusia tentang 2012 adalah karena ramalan suku Maya yang terkenal paling jago ngeramal dimana beberapa ramalannya dari jaman batu dulu sudah terbukti benar satu per satu. Mengangguk-angguk baca beberapa web yang mengunggah catatan tentang ramalan kalender suku Maya, aku justru tertarik untuk membuka link dengan judul ” Suku Maya Menampik Ramalan 2012 “  setelah dibaca, ternyata suku Maya tidak pernah meramalkan bahwa bumi akan berakhir. Tapi, itu hanya sekedar tahun pengulangan penciptaan. Entah apa maksudnya, tapi sepertinya itu bukan benar-benar ramalanj mengenai hari kiamat yang ditakutkan manusia.

Jawaban dari googling yang aku lakukan tidak sia-sia. setidaknya aku dapat jawaban yang memuaskan (dan melegakan) dari artikel berjudul ” NASA Luncurkan Halaman Situs Bantahan Kiamat 2012 “. Dari situs ini, aku menemukan bahwa NASA menyatakan bahwa pada tanggal 21 – 12 – 2012, planet akan sejajar, juga matahari dan pusat galaksi dan itu akan menabrak bumi adalah penuturan yang keliru. Karena setiap tahun setiap bulan Desember, bumi memang selalu sejajar dengan matahari. Terbukti bahwa tidak ada kiamat setiap bulan Desember kan ?

Nah, di status facebookku pagi ini, aku tulis begini :

Chitra Verdiana ngapain sih pada heboh 2012 kiamat ?? inget, kita punya Tuhan, dan ketika Tuhan berkehendak, kapanpun waktunya, kiamat berarti yang terbaik untuk seluruh manusia.. percayalah, Tuhan adalah sutradara hidup terbaik dengan ending terbaik untuk setiap manusia…

memang langsung ada beberapa komen yang rata-rata mengiyakan statusku.

Sudahlah, ga usah resah sama ramalan itu. Menurut akal sehatku, manusia tak akan ada yang mampu memprediksikan kapan kiamat datang. Kok rasanya aneh aja, manusia bisa meramalkan kiamat. Kenapa nggak meramalkan kapan matinya dia sendiri biar dia bisa siap-siap menebus dosa dan beramal sebanyaknya agar ngga masuk neraka ?

Uhmm… satu hal lagi, kiamat atau tidak, itu adalah rahasia Tuhan. Terserah Tuhan, kapan Ia berkehendak, maka terjadilah…

 

Jadi teman-teman (setidaknya yang mampir ke blog ini), sudahlah, jadikan itu peringatan saja bahwa bumi memang sudah semakin panas karena kita selalu pake plastik sembarangan, pake hairdryer tiap mau berangkat kantor, pake hairspray tiap mau party, atau kita selalu biarin charger tetep nyolok meski hape kesayangan kita udah fully loaded. Bumi makin panas dan global warming bukan sekedar issue, tapi ancaman. Cuma kita yang bisa hentikan.

So, daripada mumet cari cara buat migrasi ke bulan besok tahun 2012, mending selesein tu kerjaan yang numpuk di meja. Toh kapanpun harinya, itu sudah ketentuan Tuhan. Inget, Tuhan adalah sutradara terbaik untuk segala cerita kehidupan manusia dengan memberikan ending yang terbaik pula…

Semoga kita bisa saling mengingatkan untuk selalu memperbaiki diri, lepas dari 2012 akan benar-benar terjadi atau tidak.. Just love and enjoy your life…

Have a nice blogging.. :D

November 15, 2009 at 4:47 am 5 komentar

Ini Permintaan Papaku

Sudah lama aku nggak ngisi blog ini.. bukannya males tapi aku sibuk dan ternyata pekerjaan ini benar-benar menyita waktu aku. Sepulang kantor, aku sudah terlalu malas untuk menyalakan komputer dan menulis celotehan-celotehan aku.  Malam tadi pun sama, saat aku menulis ini, punggung aku sudah terasa lelah. Rencana ke toko buku untuk membeli sebuah buku tentang software pendukung harus aku batalkan mengingat hujan sepertinya benar-benar ingin meyetubuhi bumi malam ini.

Lantas apa yang membuat aku akhirnya membiarkan jari-jari aku menyusun kata-kata ini dari keyboard komputerku dirumah? Papa. Ya alasannya, papa aku yang meminta aku menuliskan sesuatu tentang anaknya.

Uhmm… agak aneh dan janggal rasanya waktu papa menyampaikan maksudnya. Begini ceritanya :

Tempo hari, menjelang jam kerja usai, aku menyelesaikan pekerjaan terakhir hari itu dengan membereskan kertas yang mulai menumpuk. Beberapa berkas penilaian karyawan yang seharusnya sudah selesai aku rekap terpaksa tertunda karena beberapa hal yang penting yang harus aku kerjakan. Aku masih punya waktu sekitar 10 menit untuk mematikan komputer, namun niat itu aku urungkan lantaran aku ingat tulisan kakak aku di donnyverdian.net tentang tamagochi dan ulang tahun aku yang ditulisnya Mei lalu. Mata aku menelusur beberapa arsip di halaman webnya. Niat mencari tulisan tentang ulang tahun itu kembali aku urungkan, dan aku justru membuka tulisan tentang papa. Sepertinya sama dengan tulisan tamagochi ulang tahun yang ia tuliskabn saat hari ulang tahunku, “ Yang Satu Ini Untuk Ayahku “ juga ia tuliskan sebagai hadiah ulang tahun untuk papa September lalu.

Aku sudah pernah membacanya, kali ini aku hanya ingin mencetaknya, lalu aku bawa pulang, untuk aku berikan pada papa. Saay yakin, papa pun pasti tersentuh ketika membaca tulisan ini.

Seperti biasa, papa menjemput aku di halte bus dekat rumah. Sesampainya di rumah, ketika ada mama di ruang tengah sambil meletakkan dua gelas the hangat dimeja, aku mengangsurkan kertas hasil print out blog kakak aku.

Aku : Pa, ni tadi tak print-in tulisan mas Donny di blognya.

Papa : wajah bengong

Aku : Ini pa.. ini ditulis udah lama, waktu papa ulang tahun, tapi aku baru print sekarang.. baca aja pa, aku meh mandi sik.

Papa : opo to iki ?

Mama : opo to pa? seko blog-ke donny to? Aku wis moco kui.. ( ujar mama sambil menyipitkan matanya dari tempatnya berdiri )

Aku beranjak ke kamar mandi, dan meninggalkan papa sendirian di ruang tengah. Mama ke dapur, mengambil kopi untuknya sendiri.

Selesai mandi, kertas yang tadi aku bawakan untuk papa, sudah terlipat rapi di meja tulis belakang sofa tempat papa duduk. “ Lho, kok nggak dibaca to pa?? “ tanya aku pada papa.

uwis.. “ jawabnya singkat. Ia menjawab sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

“ yee.. dibawain malah reaksine gitu tok “ ujarku sambil melenggang ke kamar.

Tak lama aku kembali ke ruang tengah, nimbrung papa yang sedang nonton TV One. Sambil ber-sms, aku dan papa saling diam. Sekitar setengah jam papa tetap diam. Jangan-jangan papa ga suka ya aku print itu.. ujar suara kecil di dalam hati saya.

Tiba-tiba “ Chit, kamu gitu juga bisa nulis di blog? “ tanyanya.

“ Bisa pa, lha kenapa e ? “ tanyaku.

“ Papa tadi mbrebes baca itu, papa inget waktu masmu berangkat ke Sydney.. “ lalu sambungnya “ Mbok kamu nulis di blogmu, tulis kalo masmu itu bla..bla..bla.. “

Jadi, permintaan papa itulah yang membuat saya meluangkan waktu untuk menuliskan ini.

Mas Donny, meskipun ia adalah seorang yang nyentrik, aneh, dan agak nyeleneh, tapi buat papa, seorang Donny adalah anak yang sangat ‘dekat’. Mengapa saya menyertakan tanda ‘ .. ‘ ? karena secara fisik, memang mereka tidak dekat. Persis seperti apa yang mas Donny tuliskan di blognya. Namun, kedekatan mereka berdua secara emosional sangatlah erat. Bahkan melebihi kedekatanku dengan papa.

Kedekatan itu terasa saat kakakku masih kecil ( saat itu aku belum ada ). Ini beberapa cerita kedekatan mereka yang papa ceritakan padaku malam itu dengan mata yang menerawang dan ehem… sedikit berkaca-kaca.

Cerita pertama. Waktu itu, hujan deras aku didalam perut mama sekitar 7 bulan. Sudah hampir malam, dan papa belum juga pulang ke rumah kontrakan kami yang pertama di Kauman, Kebumen. Mas Donny menangis dan meminta mama mengantarnya ke kantor papa. Mama yang sedang hamil besar mungkin sebenarnya malas keluar rumah karena hujan dan perutnya yang semakin berat. Namun tangis anaknya itu membuatnya mengalahkan segalanya. Berbekal payung dan jaket sekenanya, mama mengantar Donny kecil ke jalan besar. Sesampainya di kantor pos, beberapa ratus meter dari rumah kami, papa yang sedang mengendarai motornya berpapasan dengan mereka berdua, lalu memboncengkan mereka samapi ke rumah. Sesampainya diu rumah, papa menenangkan Donny kecil yang masih saja khawatir karena keterlambatan papanya pulang.

Menurut cerita mama dan papa, tangisan Donny kecil saat itu kira-kira begini

“Ma, papa belom pulang, pasti kecelakaan dijalan …. Ayo di susul kedepan ma … “ begitu tangisnya. ( uh… kakaku ini ga peduli dengan aku yang masih ada di perut mama saat itu… à mungkin begini gumamku saat aku didalam perut mama )

 

Cerita kedua. Kejadiannya sama, ketika papa pulang terlambat, tiba-tiba sesampainya di rumah, mama bercerita pada papa kalau anak sulung mereka nangis sesorean hingga malam itu karena salah satu teman mainnya menakut-nakutinya dengan berkata, begini kira-kira …

“ Don, papamu nek mulih telat kui kecelakaan nang ndalan lho Don, kowe ra nduwe bapak meneh.. “ (Don, papamu kalau pulang terlambat itu kecelakaan dijalan lho Don. Kamu ga punya bapak lagi..)

Papa menghampiri putra sulungnya dan menenangkannya dengan menjelaskan bahwa ia pulang terlambat karena tugas luar dan memakan waktu perjalanan yang lama. ( pa, anak kecil kok dijelaskan pakai logika.. mana ngertiii.. kalo aku ada saat itu, pasti itu yang kukatakan pada papa… hakakakakakak )

 

Cerita ketiga. ( astaga… aku belum juga lahir?? Ohmaigaddddd kok kakakku ini kaya anak tunggal aja sihhh… L )

Waktu itu keluarga papa belum punya mobil. Setiap hari raya Idul Fitri, papa, mama dan Donny kecil berkunjung ke rumah Eyang di Blitar, Jawa Timur. Mereka memilih untuk naik kereta karena lebih aman dan santai daripada bus. Namanya aja kereta ekonomi ( jaman itu belum ada kereta Argo ya mas ? ), tiap stasiun pasti berhenti. Entah di stasiun keberapa, papa turun ke stasiun untuk membeli rokok, atau minum, atau majalah, atau sekedar buang air. Si mama dan Donny kecil tetap duduk di dalam kereta, menjaga barang bawaan, dan kursi yang mereka duduki. Mama tetap duduk tenang memangku Donny kecil yang mulai kelihatan gelisah. Donny kecil terus melihat ke luar gerbong dan mulai panik bertanya pada mamanya “ Ma, papa endi kok ra munggah-munggah ma? Engko nek keri pie? Ki sepure wis meh mangkat .. “ ( Ma, papa mana kok nggak naik-naik ? Nanti kalau ketinggalan gimana ? Kereta ini sudah hampir berangkat lagi “ ) Memang saat itu papa sudah tidak terlihat lagi dari gerbong kereta yang penuh sesak. Mama tetap tenang, dan berusaha menenangkan Donny kecilnya.

Sampai kereta benar-benar berangkat, papa tak kunjung datang ke kursi mereka. Donny kecil semakin panik, dan menangis pelan. Dahinya mulai berkeringat. Sampai tiba-tiba papa muncul dan duduk bergabung lagi bersama mereka. Donny kecil mengehmbuskan napasnya lega dan bergumam di pangkuan papa..

Tak kiro papa keri .. “ ( Aku kira papa ketinggalan ) sambil tersungging senyum manja dibibirnya.

 

Yah, semua cerita diatas itu aku tulis berdasarkan cerita dari dua orang yang paling aku percaya, Mama dan Papa. Bagaimana tidak kupercaya, saat itu, aku belum muncul di dunia. Entah kenapa, mungkin aku memang tidak dimunculkan dulu agar aku bisa menceritakan semua ini pada teman-teman. Setidaknya lewat tulisan yang acak-acakan ini, teman-teman mas Donny bisa tau, sebesar apa sayang mas Donny ke Papanya, dan seberapa dekat dan erat batin mereka terikat.

 

Salah kalau ada yang bilang, ayah dan anak laki-laki tak akan bisa dekat. Buktinya, mereka … J Semoga, tulisan ini bisa mengembalikan hubungan yang (mungkin) renggang antara para anak laki-laki dengan para ayah di beberapa tempat dan beberapa segi kehidupan yang ada. Gengsi bukanlah alasan untuk tak memperbaiki hubungan yang tak pernah berakhir ini.

 

How I love you Brother and Dad..

Oktober 24, 2009 at 2:15 am 21 komentar

berbahagia atau membahagiakan ?

berbahagia yang saya maksud berarti KITA berbahagia atas sesuatu yang bisa membuat kita merasa demikian. sedangkan membahagiakan berarti kita melakukan sesuatu agar ORANG LAIN bahagia..

dua kata yang memiliki banyak makna ini terlintas di benak saya ketika salah satu teman kantor saya menceritakan sebab musabab kenapa ia mengakhiri hubungan dengan calon tunangannya. si pacar ini ternyata dipaksa orang tuanya untuk menerima lamaran mantan yang membuat orang tuanya merasa berhutang budi. saya bisa merasakan sakit hatinya ketika sekilas saya melihat matanya. sebentar memang, namun saya bisa melihat kesedihan yang mendalam dihatinya. meski di depan teman yang lain ia berusaha tetap senyum, namun di balik candanya pun, saya tetap bisa merasakan bebannya…

 

pembicaraan di YM kami sampai saat ia berkata bahwa ia sudah lelah untuk terus berkorban dan membahagiakan orang lain tanpa ia merasakan kebahagiaan.  kami berbeda pendapat.

menurut saya, membahagiakan dan berbahagia adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dan harus berjalan beriringan. menurut saya, seseorang akan menemukan kebahagiaannya setelah membahagiakan orang lain. sedangkan menurut teman kantor saya ini, seseorang harus berbahagia dulu sebelum membahagiakan orang lain.

uhmmm…. sejenak saya berpikir, dan kemudian saya berkata “jadi membahagiakan dan berbahagia seperti kuliah ya, membahagiakan adalah mata kuliah pra syarat sebelum kita mendapatkan kebahagiaan.. “

dari pemikiran itulah saya jadi menyimpulkan bahwa membahagiakan atau berbahagia, tentang mana yang lebih dulu harus kita lakukan adalah tergantung bagaimana sifat dasar kita sendiri..

 

saya adalah orang yang lebih memilih diam daripada harus ‘ribut’ dengan orang lain. karena itulah saya bilang saya akan mendapatkan kebahagiaan saya ketika saya sudah membahagiakan orang lain..

sedangkan untuk orang lain yang lebih berani mengambil resiko daripada saya pasti akan memilih membahagiakan diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain..

 

keduanya tak ada yang salah, karena masing-masing mempunyai kelebihan untuk bertindak. saya lebih memilih membahagiakan orang lain terlebih dahulu karena saya yakin, kebahagiaan saya sudah ada jatahnya, tak akan dirusak dan tak akan terbuang atao expired jika saya membahagiakan orang lain dulu..

begitu juga dengan teman saya ini, ia lebih memilih dirinya lebih dulu bahagia karena menurutnya ia akan lebih bisa membahagiakan orang lain ketika ia sendiri sudah berbahagia, benar adanya.. kaena ketika kita berbahagia kita tak akan punya beban untuk membahagiakan orang lain..

 

yah… memang perbedaan ini pula yang Tuhan beri kepada kita saat kita lahir..

mungkin tentang perbedaan persepsi kebahagiaan ini hanya seujung kuku daripada perbedaan tentang kepercayaan dan politik. besar atau kecilnya ukuran sebuah perbedaan, tergantung bagaimana kita menyikapinya…

 

kalau saya, memandang perbedaan sebagai sebuah proses untuk mendapatkan saya yang lebih bermutu, bermakna bagi orang lain, dan berbahagia karena menerima perbedaan mereka..

 

have a nice blogging.. :D

Juli 3, 2009 at 6:49 am 3 komentar

hargai orang lain please….

apa salahnya menghargai orang lain? semua itu demi reputasi kita sendiri kok… trust me…

Lanjutkan Membaca Juni 13, 2009 at 9:01 am 5 komentar

menang ! !

Siapapun ingin jadi pemenang dalam ‘kompetisi’ di hidupnya . . .

Lanjutkan Membaca Mei 14, 2009 at 4:38 pm Tinggalkan komentar

Pelangi . . .

pelangi itu sudah berubah image di mataku . . .

Lanjutkan Membaca Februari 11, 2009 at 3:15 pm 4 komentar

pengen jadi apa kamu ?

image, bisa kita bangun sendiri dari cara wajah kita berekspresi . . .

Lanjutkan Membaca Februari 11, 2009 at 3:09 pm Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feed


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.