menang ! !

Mei 14, 2009 at 4:38 pm Tinggalkan Komentar

Menang….

Setiap orang dalam setiap hal baik pasti ingin menang. Waktu kecil ikutan lomba makan kerupuk contohnya, kita pasti ingin jadi pemenang (asal ga kaya kakak saya yang menang tapi giginya nyangkut raffia, alhasil, ke dokter gigi deh… ;p). Waktu ikut lomba melukis, juga pasti kita ingin jadi pemenang. Meskipun gambar kita kaya ceker ayam dan ga pernah dapet nilai purrfect untuk pelajaran menggambar. Trus waktu kita ikut lomba balap karung atau balap bakiak kelompok, kita berusaha ngatur tim kita biar tampil sempurna dan disebut sebagai pemenang di akhir acara. Dan tentunya berbagai macam kompetisi lain yang kita ikuti. Pasti, banyak dari kita yang ingin keluar sebagai pemenang. Bukan untuk mendapat pujian dan kemudian di elu-elukan, tapi untuk mendapatkan kepuasan pribadi atas hasil yang udah mati-matian kita capai.

Kemenangan itu, bisa jadi adalah penghargaan untuk diri sendiri. Karena itu akan berbuah pengalaman, dan cerita yang mungkin bisa menggugah orang lain tentang perjuangan kemenangan kita.

Bukan Cuma dalam lomba, kompetisi, atau kuis saja kita bisa keluar sebagai pemenang. Dalam tiap masalah yang dihadapi dalam hidup kita itu juga merupakan kompetisi yang harus kita menangkan. Apalagi kalau dalam masalah itu kita dihadapkan dalam pilihan yang sulit, waktu pada akhirnya kita berhasil ambil keputusan yang benar, tentu saja kita ngerasa puas dan nambah satu pengalaman yang nantinya mungkin bisa kita ceritakan ke orang yang ngalamin hal yang sama.

Waktu kita memutuskan, kita tentu saja keras berpikir. Dan saat eksekusi pilihan itu, bisa jadi kita juga mati-matian melaksanakannya, atau malah kita melaksanakan dengan diam dan hanya mengamati. Eit… diam dan mengamati itu juga merupakan suatu pilihan loh. Sampai saat ini, saya berani bilang kalo untuk beberapa masalah, diam dan mengamati serta menjalani apa adanya seolah tidak ada yang terjadi adalah keputusn terbaik. Kenapa? Karena saya, beberapa waktu yang lalu memilih untuk mengambil keputusan itu, dan sekarang, saya sedang menikmati kemenangan itu.

Mungkin di beberapa tulisan saya di awal, blogger yang mampir ke blog saya sudah bbisa menyimpulkan betapa saya terluka dan tersakiti, juga terpuruk tahun lalu. Itulah ‘kompetisi’ yang saya akan ceritakan disini.

Seorang (dulu) sahabat saya punya pacar yang sangat dia banggakan di depan kami (saat itu saya bersahabat dengan empat orang teman kuliah saya). Everything that her boyfriend do, she told to us!! Reaksi saya dan dua dari teman saya itu adalah : MUAK! (dua teman karena satu dari mereka adalah sepupu si mantan sahabat saya dan tidak mungkin berkomentar buruk tentang calon saudara iparnya).

Ya, kami bertiga muak! Bukan, bukan karena kami iri dengan surprise party yang sempat dibuatkan pacarnya di ulangtahunnya ke 21, atau iri karena sebuah boneka teddy bear sebesar beruang beneran hadiah Valentine dari pacarnya nangkring manis di kasurnya, bukan juga karena iri lantaran pacarnya yang bersedia jemput kuliah pagi meskipun rumah si mantan sahabat saya ini berada diujung jogja.

Kami muak karena si pacar ini adalah cowok genit dan cowok paling pinter bersandiwara atas beberapa perselingkuhan yang dia lakukan! Iya! BEBERAPA! Saya ga salah ketik! Dia beberapa kali ketahuan selingkuh dan si selingkuhan ini adalah temen-temen kami sendiri! Yang bikin kami tambah muak adalah sahabat kami yang jadi bodoh karena cintanya yang ga penting itu ke cowoknya yang amit-amit liar-nya.

(hufh… emosi ni nulisnya!!!).

nah, entah kenapa, si pacar ini tiba-tiba curhat sama saya soal mantan sahabat saya ini. Karena ceritanya mengindikasikan hal buruk, saya cerita donk sama dua sahabat saya yang lain… saya tanya ke temen saya ini, what should I do… what should I do when I know that someone try to ‘kill’ my best friend… dan usul dari dua sahabat saya ini adalah terang-terangan cerita ke mantan sahabat saya ini.

Singkat ceita, saya ceritain semua, mereka memang sempet putus, tapi kemudian balik lagi karena si cowok yang rajanya sandiwara ini, berhasil mencuci otak si sahabat saya yang bodoh karena cinta ini dengan omongan kalo SAYA adalah orang yang IRI dengan hubungan mereka! (Helloooooo… seorang chitra yang WARAS, ga pernah iri dengan hubungan yang selalu ditutupi kebohongan! Diselingkuhin kok mau!!) ok fine! Saya terima aja. Jadilah tahun kemarin tahun terburuk bagi saya. Ditinggalin pacar, difitnah sahabat sendiri, di teror via sms, dilirik sinis oleh beberapa teman yang ikut terhasut si raja sandiwara itu.

Purrfect! It’s really complete me!!!

Waktu itu, saya hampir depresi. Dua sahabat yang minta saya untuk membuak semua cerita itu justru kabur dan meminta saya berbaikan dengan si mantan sahabat ini! WHAT?!!!! Jawaban saya saat itu adalah gelengan keras dan dengan bulatnya menyatakan ‘Dia ga pernah ada dalam hidupku! Sekarang, dan selamanya!’

Jujur saya terguncang dengan kejadian ini. Saya tiba-tiba dimusuhi oleh dunia saya sendiri. Akhirnya, ditengan depresi itu, saya memutuskan untuk diam dan tidak menghiraukan semua omongan miring tentang saya. Yang saya lakukan saat itu hanyalah diam, dan melanjutkan hidup saya seolah-olah saya memang tidak pernah kenal dengan dua makhluk paling serasi ini (gimana ga serasi? Yang satu liar, yang satu totally stupid! KLOP kan??).

Temen-temen yang tidak terlalu mengenal saya ada yang terhasut omongan si liar ini dan percaya omongannya. Waktu ketemu dan papasan dengan mereka, saya yang niat menyapa, malah disuguhi tampang sinis dan bibir yang menyudut tajam. Grhhhhhhhh… rasanya pengen marah, pengen jelasin apa yang sebenernya terjadi. Dan pengen teriak didepan mereka “KALIAN GA TAU APA-APA, MENDING DIEM AJA DEH!!!!!”

Tapi saya terus mencoba untuk sabar dan nge-rem emosi saya. Karena saya tau, tak banyak yang bisa saya lakukan di posisi seperti itu selain diam, dan tetep baik ke temen-temen yang lain.

Berbulan-bulan saya melakukan itu. Berusaha hidup normal meski segalanya sudah tidak normal, berusaha tersenyum meski segala yang terjadi terlalu menyedihkan untuk dapat mengangkat sudut bibir saya ke atas, dan tetap berbuat baik pada mereka yang terhasut meski tangan ini ingin membekap mulut mereka dan meminta waktu untuk menjelaskan kebenarannhya. Semua saya jalani dengan berat.

Kadang saya berpikir kalau diam, bukanlah jalan terbaik. Tapi pikiran itu sgera lenyap ketika saya melihat sedikit perubahan dari sikap teman-teman saya. Perlahan, mereka yang dulu ikut memusuhi justru datang kepada saya dan menunjukkan sikap ‘kita mulai dari awal ya Chit…aku pengen tau kamu yang sebenarnya, aku nggak percaya omongan dia…’ Saya yang didatangi tentu saja menyambut baik kedatangan mereka yang kembali dalam kehidupan saya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya publik menunjukkan penilaian mereka terhadap saya. Sampai saat ini, yang terjadi justru mereka semua kembali berteman dengan saya dan mereka mulai meninggalkan fitnah-fitnah yang sempat mencuci otak mereka. Dan yang terjadi saat ini, justru dua sejoli yang sangat serasi itu yang kehilangan teman-temannya. Disatu kesempatan, di pernikahan salah satu teman kami, mereka berdua datang, dan ketika menunggu giliran untuk masuk gedung, kami ngobrol seru, dan mereka berdua, hanya berdiri disudut pintu masuk, berdua, tanpa tawa dan cerita.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya menyapa lewat yahoo messenger, dan tiba-tiba bertanya ‘Chit, kamu pernah ga ngalami sesuatu yang benar-benar kamu artikan sebagai kemenangan?’ saya dengan mantapnya menjawab ‘Pernah. Waktu itu aku memenangkan sesuatu yang aku menangkan dengan diam.’  saat ini saya menang. Menang karena Natal Desember kemarin, si cowok ini mengirim sms berupa permohonan maaf atas seluruh kesalahannya yang benar-benar telah menghancurkan hidup saya itu. Dan kemarin, saat saya terkena Demam Berdarah di rumah sakit, seorang sahabat saya, menitipkan ucapan segera sembuh dari si mantan sahabat saya ini.

Itulah, kadang diam memang bisa memenangkan suatu kompetisi. Diam tanpa memberikan perlawanan, dan diam untuk membalas semua perbuatan buruk. Diam dan menjalani segalanya seperti tidak ada sesuatu buruk yang menimpa kita. Diam dan tetap menjaga image yang seolah telah remuk, namun sebenarnya hanya terguncang.

Diam yang saat itu saya pilih, adalah diam yang dilandasi dengan prinsip ‘Biarkan publik yang menilai, apapun yang terjadi, aku harus berbuat baik pada setiap orang’. Terlepas dari berapa banyak orang yang memfitnah kita (asal kita diposisi yang benar dan tidak melakukan kesalahan), percayalah, someday, they will back into our life dan memohon maaf atas apa yang telah terjadi. Memaafkan atau tidak? Itu kembali ke diri kita masing-masing.

Have a nice blogging! :)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pelangi . . . hargai orang lain please….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Feb   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.