Archive for Oktober, 2009

Ini Permintaan Papaku

Sudah lama aku nggak ngisi blog ini.. bukannya males tapi aku sibuk dan ternyata pekerjaan ini benar-benar menyita waktu aku. Sepulang kantor, aku sudah terlalu malas untuk menyalakan komputer dan menulis celotehan-celotehan aku.  Malam tadi pun sama, saat aku menulis ini, punggung aku sudah terasa lelah. Rencana ke toko buku untuk membeli sebuah buku tentang software pendukung harus aku batalkan mengingat hujan sepertinya benar-benar ingin meyetubuhi bumi malam ini.

Lantas apa yang membuat aku akhirnya membiarkan jari-jari aku menyusun kata-kata ini dari keyboard komputerku dirumah? Papa. Ya alasannya, papa aku yang meminta aku menuliskan sesuatu tentang anaknya.

Uhmm… agak aneh dan janggal rasanya waktu papa menyampaikan maksudnya. Begini ceritanya :

Tempo hari, menjelang jam kerja usai, aku menyelesaikan pekerjaan terakhir hari itu dengan membereskan kertas yang mulai menumpuk. Beberapa berkas penilaian karyawan yang seharusnya sudah selesai aku rekap terpaksa tertunda karena beberapa hal yang penting yang harus aku kerjakan. Aku masih punya waktu sekitar 10 menit untuk mematikan komputer, namun niat itu aku urungkan lantaran aku ingat tulisan kakak aku di donnyverdian.net tentang tamagochi dan ulang tahun aku yang ditulisnya Mei lalu. Mata aku menelusur beberapa arsip di halaman webnya. Niat mencari tulisan tentang ulang tahun itu kembali aku urungkan, dan aku justru membuka tulisan tentang papa. Sepertinya sama dengan tulisan tamagochi ulang tahun yang ia tuliskabn saat hari ulang tahunku, “ Yang Satu Ini Untuk Ayahku “ juga ia tuliskan sebagai hadiah ulang tahun untuk papa September lalu.

Aku sudah pernah membacanya, kali ini aku hanya ingin mencetaknya, lalu aku bawa pulang, untuk aku berikan pada papa. Saay yakin, papa pun pasti tersentuh ketika membaca tulisan ini.

Seperti biasa, papa menjemput aku di halte bus dekat rumah. Sesampainya di rumah, ketika ada mama di ruang tengah sambil meletakkan dua gelas the hangat dimeja, aku mengangsurkan kertas hasil print out blog kakak aku.

Aku : Pa, ni tadi tak print-in tulisan mas Donny di blognya.

Papa : wajah bengong

Aku : Ini pa.. ini ditulis udah lama, waktu papa ulang tahun, tapi aku baru print sekarang.. baca aja pa, aku meh mandi sik.

Papa : opo to iki ?

Mama : opo to pa? seko blog-ke donny to? Aku wis moco kui.. ( ujar mama sambil menyipitkan matanya dari tempatnya berdiri )

Aku beranjak ke kamar mandi, dan meninggalkan papa sendirian di ruang tengah. Mama ke dapur, mengambil kopi untuknya sendiri.

Selesai mandi, kertas yang tadi aku bawakan untuk papa, sudah terlipat rapi di meja tulis belakang sofa tempat papa duduk. “ Lho, kok nggak dibaca to pa?? “ tanya aku pada papa.

uwis.. “ jawabnya singkat. Ia menjawab sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

“ yee.. dibawain malah reaksine gitu tok “ ujarku sambil melenggang ke kamar.

Tak lama aku kembali ke ruang tengah, nimbrung papa yang sedang nonton TV One. Sambil ber-sms, aku dan papa saling diam. Sekitar setengah jam papa tetap diam. Jangan-jangan papa ga suka ya aku print itu.. ujar suara kecil di dalam hati saya.

Tiba-tiba “ Chit, kamu gitu juga bisa nulis di blog? “ tanyanya.

“ Bisa pa, lha kenapa e ? “ tanyaku.

“ Papa tadi mbrebes baca itu, papa inget waktu masmu berangkat ke Sydney.. “ lalu sambungnya “ Mbok kamu nulis di blogmu, tulis kalo masmu itu bla..bla..bla.. “

Jadi, permintaan papa itulah yang membuat saya meluangkan waktu untuk menuliskan ini.

Mas Donny, meskipun ia adalah seorang yang nyentrik, aneh, dan agak nyeleneh, tapi buat papa, seorang Donny adalah anak yang sangat ‘dekat’. Mengapa saya menyertakan tanda ‘ .. ‘ ? karena secara fisik, memang mereka tidak dekat. Persis seperti apa yang mas Donny tuliskan di blognya. Namun, kedekatan mereka berdua secara emosional sangatlah erat. Bahkan melebihi kedekatanku dengan papa.

Kedekatan itu terasa saat kakakku masih kecil ( saat itu aku belum ada ). Ini beberapa cerita kedekatan mereka yang papa ceritakan padaku malam itu dengan mata yang menerawang dan ehem… sedikit berkaca-kaca.

Cerita pertama. Waktu itu, hujan deras aku didalam perut mama sekitar 7 bulan. Sudah hampir malam, dan papa belum juga pulang ke rumah kontrakan kami yang pertama di Kauman, Kebumen. Mas Donny menangis dan meminta mama mengantarnya ke kantor papa. Mama yang sedang hamil besar mungkin sebenarnya malas keluar rumah karena hujan dan perutnya yang semakin berat. Namun tangis anaknya itu membuatnya mengalahkan segalanya. Berbekal payung dan jaket sekenanya, mama mengantar Donny kecil ke jalan besar. Sesampainya di kantor pos, beberapa ratus meter dari rumah kami, papa yang sedang mengendarai motornya berpapasan dengan mereka berdua, lalu memboncengkan mereka samapi ke rumah. Sesampainya diu rumah, papa menenangkan Donny kecil yang masih saja khawatir karena keterlambatan papanya pulang.

Menurut cerita mama dan papa, tangisan Donny kecil saat itu kira-kira begini

“Ma, papa belom pulang, pasti kecelakaan dijalan …. Ayo di susul kedepan ma … “ begitu tangisnya. ( uh… kakaku ini ga peduli dengan aku yang masih ada di perut mama saat itu… à mungkin begini gumamku saat aku didalam perut mama )

 

Cerita kedua. Kejadiannya sama, ketika papa pulang terlambat, tiba-tiba sesampainya di rumah, mama bercerita pada papa kalau anak sulung mereka nangis sesorean hingga malam itu karena salah satu teman mainnya menakut-nakutinya dengan berkata, begini kira-kira …

“ Don, papamu nek mulih telat kui kecelakaan nang ndalan lho Don, kowe ra nduwe bapak meneh.. “ (Don, papamu kalau pulang terlambat itu kecelakaan dijalan lho Don. Kamu ga punya bapak lagi..)

Papa menghampiri putra sulungnya dan menenangkannya dengan menjelaskan bahwa ia pulang terlambat karena tugas luar dan memakan waktu perjalanan yang lama. ( pa, anak kecil kok dijelaskan pakai logika.. mana ngertiii.. kalo aku ada saat itu, pasti itu yang kukatakan pada papa… hakakakakakak )

 

Cerita ketiga. ( astaga… aku belum juga lahir?? Ohmaigaddddd kok kakakku ini kaya anak tunggal aja sihhh… L )

Waktu itu keluarga papa belum punya mobil. Setiap hari raya Idul Fitri, papa, mama dan Donny kecil berkunjung ke rumah Eyang di Blitar, Jawa Timur. Mereka memilih untuk naik kereta karena lebih aman dan santai daripada bus. Namanya aja kereta ekonomi ( jaman itu belum ada kereta Argo ya mas ? ), tiap stasiun pasti berhenti. Entah di stasiun keberapa, papa turun ke stasiun untuk membeli rokok, atau minum, atau majalah, atau sekedar buang air. Si mama dan Donny kecil tetap duduk di dalam kereta, menjaga barang bawaan, dan kursi yang mereka duduki. Mama tetap duduk tenang memangku Donny kecil yang mulai kelihatan gelisah. Donny kecil terus melihat ke luar gerbong dan mulai panik bertanya pada mamanya “ Ma, papa endi kok ra munggah-munggah ma? Engko nek keri pie? Ki sepure wis meh mangkat .. “ ( Ma, papa mana kok nggak naik-naik ? Nanti kalau ketinggalan gimana ? Kereta ini sudah hampir berangkat lagi “ ) Memang saat itu papa sudah tidak terlihat lagi dari gerbong kereta yang penuh sesak. Mama tetap tenang, dan berusaha menenangkan Donny kecilnya.

Sampai kereta benar-benar berangkat, papa tak kunjung datang ke kursi mereka. Donny kecil semakin panik, dan menangis pelan. Dahinya mulai berkeringat. Sampai tiba-tiba papa muncul dan duduk bergabung lagi bersama mereka. Donny kecil mengehmbuskan napasnya lega dan bergumam di pangkuan papa..

Tak kiro papa keri .. “ ( Aku kira papa ketinggalan ) sambil tersungging senyum manja dibibirnya.

 

Yah, semua cerita diatas itu aku tulis berdasarkan cerita dari dua orang yang paling aku percaya, Mama dan Papa. Bagaimana tidak kupercaya, saat itu, aku belum muncul di dunia. Entah kenapa, mungkin aku memang tidak dimunculkan dulu agar aku bisa menceritakan semua ini pada teman-teman. Setidaknya lewat tulisan yang acak-acakan ini, teman-teman mas Donny bisa tau, sebesar apa sayang mas Donny ke Papanya, dan seberapa dekat dan erat batin mereka terikat.

 

Salah kalau ada yang bilang, ayah dan anak laki-laki tak akan bisa dekat. Buktinya, mereka … J Semoga, tulisan ini bisa mengembalikan hubungan yang (mungkin) renggang antara para anak laki-laki dengan para ayah di beberapa tempat dan beberapa segi kehidupan yang ada. Gengsi bukanlah alasan untuk tak memperbaiki hubungan yang tak pernah berakhir ini.

 

How I love you Brother and Dad..

Oktober 24, 2009 at 2:15 am 22 komentar


Kalender

Oktober 2009
S S R K J S M
« Jul   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.