Archive for November, 2010
karang itu pernah menenggelamkan
Tiga tahun lalu, layaknya sebuah perahu, aku pernah berlayar.. Dinaiki oleh orang-orang yang kukasihi. Para sahabat dari negeri seberang. Mereka mempercayaiku untuk membawa mereka ke pantai indah dengan segala iringan nyanyian persahabatan dan persaudaraan yang membahagiakan.
Sepanjang perjalanan, hembusan angin yang harum membantuku mendekati pantai tujuanku. Para sahabat didalamku menikmati berbagai macam makanan yang nikmat, minuman yang segar, dan buah-buahan yang manis seperti manisnya perjalanan persahabatan kami.
Sesekali angin sedikit lebih kencang, menghantam perahu kecil ini, tapi karena para sahabat yang menaikiku mendukung dengan setiap doa, aku tetap melaju di laut yang tenang. Sesekali badai kecil datang, namun semua tetap terlampaui. Semua ini karena cinta para sahabat yang mempercayaiku.
Pada suatu hari, aku merasa lelah, awak perahuku membuang sauhku untuk sejenak mengistirahatkan tubuhku yang lelah mengarungi lautan. Para shabat beristirahat pada sebuah pulau yang teduh. Dari pulau itu, tampak sebuah pulau karang yang indah, gagah, dan mempesonaku. Seolah ia memanggilku untuk membuang sauhku disana. Namun aku tahu, karang itu tetaplah karang.Ia berbahaya.
Para sahabat kembali menaikiku. Mereka tahu, aku terus mengagumi pulau karang dihadapanku, dan mereka memperingatkanku.
“Jangan kesana, itu akan berbahaya untukmu. Ia akan menghancurkanmu, dan menenggelamkanmu.” kata salah satu sahabatku..
“Iya, jangan kesana, carilah jalur lain, atau kita akan terpisah, hancur dan pecah berantakan” kata sahabatku satu lagi..
Aku tak menghiraukan mereka. Aku terus melaju kearahnya. Semakin dekat, aku semakin terpesona oleh kekokohannya. Ketika para sahabatku ketakutan, aku justru berkata dalam hatiku “tenanglah, karang itu akan melindungimu dari terjangan ombak ganas sekalipun”
Aku mendekatkan tubuhku hati-hati ke pulau karang itu. Sesaat, karang itu berkata padaku
“Jangan percaya pada mereka, percayalah padaku, aku aka menjagamu disini. Melindungimu dari hempasan ombak yang akan melukaimu”
Aku semakin mendekatkan badan perahuku padanya. Tak peduli apa kata mereka padaku. Mereka terus berteriak memintaku segera berlayar. Tetapi tidak kuhiraukan.
Sampai tiba-tiba aku merasakan bahwa badan perahuku mulai terluka karena benturan. Ombak mengehmpasku dan karang itu tidak melindungiku. Para sahabat berusaha menarikku dari karang itu. Tetapi karang itu semakin mencengkeramku.
Aku menangis perlahan. Salah seorang sahabat dari jauh menawarkan dirinya untuk menjadi tempatku mengeluh tentang cengkeraman kuatnya. Ia menganggukan kepala seolah meenangkanku dan ikut mengutuk perbuatan karang itu. Perlahan aku berhasil menjauh dari karang itu karena dukungan para sahabatku. Aku lega mereka masih mempercayaiku dan tetap berada di perahuku.
Sesaat ketika aku berhasiol menjauh, tiba-tiba karang itu menyuruh angin mendorong air agar menjadi ombak besar dan menghempaskan perahuku mendekatinya. Sangat kuat hempasannya sampai aku benar-benar dekat pada karang itu. Sangat dekat hingga aku terhempas dari ketinggian ombak, lalu menyentuh karang kokoh itu, kemudian aku sadar bahwa aku telah membunuh para sahabat yang sangat mempercayaiku dan membuat diriku sendiri pecah berantakan. Menjadi keping dan puing kayu yang remuk. Hancur, dan terapun tak tentu arah.
Seekor burung camar menghampiri kepinganku. Ia berkata “Percayalah pada sahabatmu, ceritakan pada mereka yang jauh, agar tidak mendekati karang itu. Karang itu akan membunuh siapapun perahu cantik yang mendekatinya. Ia selalu memanggil perahu cantik lainnya ketika ia tahu bahwa perahu yang mendekatinya telah rapuh karena hantaman ombak” lalu ia pergi.
Aku terus mengapun. Sampai akhirnya aku bertemu seorang gadis yang sedang berenang. Aku menceritakan kehancuranku, perpecahan dan matinya sahabat-sahabatku karena karang itu. Lalu kukatakan agar ia tidak mendekati karang itu. Ia mengiyakan. aku menjauhi gadis itu terbawa angin, dan …
Oh tidak, gadis itu semakin mendekat ke karang kokoh dan kejam itu. Ingin rasanya aku mencegahnya, tapi apa dayaku. Karang itu sama megahnya dimata gadis itu, sama seperti aku pernah melihat kemegahannya dulu.
Dari kejauhan aku hanya berdoa ..
“Tuhan Pencipta Alam, Engkau tahu bahwa gadis itu tahu karang itu kejam dan pernah membunuh sahabat-sahabatku, menghancurkan perahuku, memporak porandakan kepercayaan yang diberikan kepadaku, membuag segala asaku. Mengapa sekarang ia bersamanya? Bermain dalam dekapan karang itu? Jika memang karang itu telah menjadi salju, buatlah gadis itu nyaman bersamanya, namun bila karang itu tetaplah karang seperti yang kulihat saat ini, kirimkan perahu gagah kesana untuk menjemput gadis itu meraih mimpinya.. Biarkan aku yang menjadi puing, dan biarkan gadis itu menemui kebahagiannya.. “
Entah, apakan Sang Pencipta lam menabulkan permintaanku, namun disetiap ayunan langkahku disapu gelombang, aku berbisik pada angin agar segera gadis itu pergi, karena karang tak pernah berubah menjadi salju…
Dedicated to : someone who falling in love with that rockstone.. hope it will be look like a snow for you…