<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Chitraverdiana's Blog</title>
	<atom:link href="http://chitraverdiana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://chitraverdiana.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 May 2011 16:44:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='chitraverdiana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Chitraverdiana's Blog</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://chitraverdiana.wordpress.com/osd.xml" title="Chitraverdiana&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://chitraverdiana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>karang itu pernah menenggelamkan</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/11/22/karang-itu-pernah-menenggelamkan/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/11/22/karang-itu-pernah-menenggelamkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 14:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Tiga tahun lalu, layaknya sebuah perahu, aku pernah berlayar.. Dinaiki oleh orang-orang yang kukasihi. Para sahabat dari negeri seberang. Mereka mempercayaiku untuk membawa mereka ke pantai indah dengan segala iringan nyanyian persahabatan dan persaudaraan yang membahagiakan. &#160; Sepanjang perjalanan, hembusan angin yang harum membantuku mendekati pantai tujuanku. Para sahabat didalamku menikmati berbagai macam makanan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=61&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga tahun lalu, layaknya sebuah perahu, aku pernah berlayar.. Dinaiki oleh orang-orang yang kukasihi. Para sahabat dari negeri seberang. Mereka mempercayaiku untuk membawa mereka ke pantai indah dengan segala iringan nyanyian persahabatan dan persaudaraan yang membahagiakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepanjang perjalanan, hembusan angin yang harum membantuku mendekati pantai tujuanku. Para sahabat didalamku menikmati berbagai macam makanan yang nikmat, minuman yang segar, dan buah-buahan yang manis seperti manisnya perjalanan persahabatan kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesekali angin sedikit lebih kencang, menghantam perahu kecil ini, tapi karena para sahabat yang menaikiku mendukung dengan setiap doa, aku tetap melaju di laut yang tenang. Sesekali badai kecil datang, namun semua tetap terlampaui. Semua ini karena cinta para sahabat yang mempercayaiku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada suatu hari, aku merasa lelah, awak perahuku membuang sauhku untuk sejenak mengistirahatkan tubuhku yang lelah mengarungi lautan. Para shabat beristirahat pada sebuah pulau yang teduh. Dari pulau itu, tampak sebuah pulau karang yang indah, gagah, dan mempesonaku. Seolah ia memanggilku untuk membuang sauhku disana. Namun aku tahu, karang itu tetaplah karang.Ia berbahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para sahabat kembali menaikiku. Mereka tahu, aku terus mengagumi pulau karang dihadapanku, dan mereka memperingatkanku.</p>
<p>&#8220;Jangan kesana, itu akan berbahaya untukmu. Ia akan menghancurkanmu, dan menenggelamkanmu.&#8221; kata salah satu sahabatku..</p>
<p>&#8220;Iya, jangan kesana, carilah jalur lain, atau kita akan terpisah, hancur dan pecah berantakan&#8221; kata sahabatku satu lagi..</p>
<p>Aku tak menghiraukan mereka. Aku terus melaju kearahnya. Semakin dekat, aku semakin terpesona oleh kekokohannya. Ketika para sahabatku ketakutan, aku justru berkata dalam hatiku <em>&#8220;tenanglah, karang itu akan melindungimu dari terjangan ombak ganas sekalipun&#8221;</em></p>
<p>Aku mendekatkan tubuhku hati-hati ke pulau karang itu. Sesaat, karang itu berkata padaku</p>
<p>&#8220;Jangan percaya pada mereka, percayalah padaku, aku aka menjagamu disini. Melindungimu dari hempasan ombak yang akan melukaimu&#8221;</p>
<p>Aku semakin mendekatkan badan perahuku padanya. Tak peduli apa kata mereka padaku. Mereka terus berteriak memintaku segera berlayar. Tetapi tidak kuhiraukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai tiba-tiba aku merasakan bahwa badan perahuku mulai terluka karena benturan. Ombak mengehmpasku dan karang itu tidak melindungiku. Para sahabat berusaha menarikku dari karang itu. Tetapi karang itu semakin mencengkeramku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku menangis perlahan. Salah seorang sahabat dari jauh menawarkan dirinya untuk menjadi tempatku mengeluh tentang cengkeraman kuatnya. Ia menganggukan kepala seolah meenangkanku dan ikut mengutuk perbuatan karang itu. Perlahan aku berhasil menjauh dari karang itu karena dukungan para sahabatku. Aku lega mereka masih mempercayaiku dan tetap berada di perahuku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesaat ketika aku berhasiol menjauh, tiba-tiba karang itu menyuruh angin mendorong air agar menjadi ombak besar dan menghempaskan perahuku mendekatinya. Sangat  kuat hempasannya sampai aku benar-benar dekat pada karang itu. Sangat dekat hingga aku terhempas dari ketinggian ombak, lalu menyentuh karang kokoh itu, kemudian aku sadar bahwa aku telah membunuh para sahabat yang sangat mempercayaiku dan membuat diriku sendiri pecah berantakan. Menjadi keping dan puing kayu yang remuk. Hancur, dan terapun tak tentu arah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seekor burung camar menghampiri kepinganku. Ia berkata &#8220;Percayalah pada sahabatmu, ceritakan pada mereka yang jauh, agar tidak mendekati karang itu. Karang itu akan membunuh siapapun perahu cantik yang mendekatinya. Ia selalu memanggil perahu cantik lainnya ketika ia tahu bahwa perahu yang mendekatinya telah rapuh karena hantaman ombak&#8221; lalu ia pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku terus mengapun. Sampai akhirnya aku bertemu seorang gadis yang sedang berenang. Aku menceritakan kehancuranku, perpecahan dan matinya sahabat-sahabatku karena karang itu. Lalu kukatakan agar ia tidak mendekati karang itu. Ia mengiyakan. aku menjauhi gadis itu terbawa angin, dan &#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh tidak, gadis itu semakin mendekat ke karang kokoh dan kejam itu. Ingin rasanya aku mencegahnya, tapi apa dayaku. Karang itu sama megahnya dimata gadis itu, sama seperti aku pernah melihat kemegahannya dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari kejauhan aku hanya berdoa ..</p>
<p>&#8220;Tuhan Pencipta Alam, Engkau tahu bahwa gadis itu tahu karang itu kejam dan pernah membunuh sahabat-sahabatku, menghancurkan perahuku, memporak porandakan kepercayaan yang diberikan kepadaku, membuag segala asaku. Mengapa sekarang ia bersamanya? Bermain dalam dekapan karang itu? Jika memang karang itu telah menjadi salju, buatlah gadis itu nyaman bersamanya, namun bila karang itu tetaplah karang seperti yang kulihat saat ini, kirimkan perahu gagah kesana untuk menjemput gadis itu meraih mimpinya.. Biarkan aku yang menjadi puing, dan biarkan gadis itu menemui kebahagiannya.. &#8220;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Entah, apakan Sang Pencipta lam menabulkan permintaanku, namun disetiap ayunan langkahku disapu gelombang, aku berbisik pada angin agar segera gadis itu pergi, karena karang tak pernah berubah menjadi salju&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dedicated to : someone who falling in love with that rockstone.. hope it will be look like a snow for you&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=61&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/11/22/karang-itu-pernah-menenggelamkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dulu, dia temanku</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/07/17/dulu-dia-temanku/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/07/17/dulu-dia-temanku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 16:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[semasa SMU, saya pernah punya seorang pacar, yang (kata teman-teman) cakep, jagoan basket sekolah, dan pintar.. pokoknya (kata temen-temen) pacar saya itu adalah seorang cowok yang disukai beberapa temen saya yang cewek tentunya.. sayangnya, saat itu saya tidak benar-benar memahami arti cinta (monyet).. jadi saya hanya pacaran aja..kalo jaman sekarang mungkin disebutnya sebagai &#8216;status palsu&#8217;, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=58&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>semasa SMU, saya pernah punya seorang pacar, yang (kata teman-teman) cakep, jagoan basket sekolah, dan pintar.. pokoknya (kata temen-temen) pacar saya itu adalah seorang cowok yang disukai beberapa temen saya yang cewek tentunya..</p>
<p>sayangnya, saat itu saya tidak benar-benar memahami arti cinta (monyet).. jadi saya hanya pacaran aja..kalo jaman sekarang mungkin disebutnya sebagai &#8216;status palsu&#8217;, padahal overall si pacar saya ini adalah seorang sahabat yang baik.</p>
<p>Uhmmmm tapi postingan saya kali ini bukan tentang dia, tapi tentang salah satu temannya yang juga menjadi teman saya.</p>
<p>Teman saya ini seorang cowok juga, orangnya aneh kalo saya bilang. Eksentrik. Eh, ga juga ding, hanya saja perilakunya agak aneh, kaya agak hiperaktif gitu menurut saya. Herannya saya justru nyaman kalo cerita ke dia daripada ke pacar saya saat itu. Termasuk cerita waktu mau mutusin pacar saya pun, saya memilih dia untuk dimintai pertimbangan.</p>
<p>Karena mereka kakak kelas, dalam tempo singkat, saya kehilangan jejak para sahabat ini. Yaaa seperti biasa, tahun berganti tahun, lalu tanpa sadar, 7 tahun sudah saya dan para sahabat ini tidak saling komunikasi.</p>
<p>Sampai pada suatu minggu pagi, di kapel dimana saya dan mama saya biasa mengikuti misa ekaristi, mama menyenggol lengan saya dan menunjuk seseorang yang ternyata si sahabat mantan pacar saya semasa SMU yang aneh itu tadi. <em>Totally surprised</em> dibuatnya karena ukuran badannya yang membesar hampir tiga kali lipat. Hmmm&#8230; sedikit terkikik saya menunggu ia berbalik, lalu saya menyapanya.</p>
<p>Saling sapa yang sangat singkat saat bertemu beberapa minggu yang lampau, sampai tempo hari, <em>notification</em> di handphone saya berbunyi, ada sebuah mesej dari seorang teman di facebook saya. Ketika saya baca, saya kaget.. (saya tidak akan menuliskan ulang apa isi mesej yang ia kirim pada saya) begini kira-kira mesejnya :</p>
<p>&#8220;kamu kok berubah banget ya,,&#8221;</p>
<p>setengah tersenyum, pikiran saya menerawang mundur ke masa sekolah saya dulu.</p>
<p>jujur saja saya menganggap masa SMU saya tidak bisa dibilang baik, karena di masa itulah untuk pertama kalinya saya dikecewakan oleh sahabat terdekat saya. dan karena lingkungan pergaulan &#8216;geng&#8217; perempuan di kelas saya dan &#8216;geng&#8217; mantan sahabat saya yang akhirnya mengecewakan saya itulah, saya tidak pernah menganggap teman-teman sekolah saya ada dalam kenangan saya.</p>
<p>nah, rupanya mesej salah satu teman saya ini seolah membangunkan saya dan mengingatkan bahwa diantara mereka yang saya anggap mengecewakan, ternyata justru ada seseorang yang tidak pernah saya duga justru pernah memperhatikan saya, dan tidak malu melawan egonya untuk menegur saya duluan..</p>
<p>Hmmm&#8230; Tuhan, kalau malam ini ikutan baca postingan saya, saya minta maaf ya karena udah under estimate sama teman-teman saya dulu..</p>
<p>Berkati mereka ya Tuhan, semoga mereka terus mendapatkan penghargaan untuk setiap perhatian mereka.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=58&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2010/07/17/dulu-dia-temanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disinilah Peran Seorang Papa</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/12/16/disinilah-peran-seorang-papa/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/12/16/disinilah-peran-seorang-papa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 00:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Postinganku kali ini, murni aku ambil dari milis dimana aku jadi salah satu anggotanya. Kenapa aku posting disini, karena memang tulisan ini sudah menitikkan air mataku saat membacanya, dan mungkin akan sangat membantu kita untuk mengerti dimana peran seorang papa dihidup kita&#8230; Silakan baca &#8230; Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=56&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Postinganku kali ini, murni aku ambil dari milis dimana aku jadi salah satu anggotanya. Kenapa aku posting disini, karena memang tulisan ini sudah menitikkan air mataku saat membacanya, dan mungkin akan sangat membantu kita untuk mengerti dimana peran seorang papa dihidup kita&#8230;</p>
<p>Silakan baca &#8230;</p>
<p>Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suami / istrinya tinggal di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?</p>
<p>Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil&#8230;&#8230;Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu&#8230;Kemudian Mama bilang : &#8220;Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya&#8221; , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka&#8230;. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.</p>
<p>Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : &#8220;Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang&#8221; Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?</p>
<p>Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :&#8221;Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!&#8221;. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu. Ketika kamu sudah beranjak remaja&#8230;.Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: &#8220;Tidak boleh!&#8221;. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat &#8211; sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu&#8230;Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama&#8230;. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?</p>
<p>Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia&#8230;.. :&#8217;) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?</p>
<p>Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir&#8230; Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut. ..Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. . Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?&#8221; Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa&#8221;</p>
<p>Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata &#8211; mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti&#8230; Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa Ketika kamu menjadi gadis dewasa&#8230;.Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain&#8230;Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini &#8211; itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata &#8220;Jaga dirimu baik-baik ya sayang&#8221;.Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT&#8230;kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.</p>
<p>Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan&#8230; Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : &#8220;Tidak&#8230;. Tidak bisa!&#8221; Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan &#8220;Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu&#8221;. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?</p>
<p>Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat &#8220;putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang&#8221;</p>
<p>Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..Karena Papa tahu&#8230;..Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti&#8230; Dan akhirnya&#8230;. Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia&#8230;. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat Bahagia! Kemudian Papa berdoa&#8230;.Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: &#8220;Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik&#8230;.Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik&#8230;.Bahagiaka nlah ia bersama suaminya&#8230;. &#8220;</p>
<p>Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk&#8230; Dengan rambut yang telah dan semakin memutih&#8230;. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya&#8230;. Papa telah menyelesaikan tugasnya&#8230;.</p>
<p>Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita&#8230;Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat&#8230; Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis&#8230;Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa &#8220;KAMU BISA&#8221; dalam segala hal apapun.:&#8217;)</p>
<p>Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah hingga tugasnya selesai&#8230;. Jika kamu mengalaminya, Kamu adalah salah satu orang yang beruntung&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=56&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/12/16/disinilah-peran-seorang-papa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(film kiamat) 2012</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/11/15/film-kiamat-2012/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/11/15/film-kiamat-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 04:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Jujur, aku sendiri belum sempat nonton film yang bikin heboh ini. (kok bisa tau bikin heboh?) Ya tau hebohnya tu dari status fb temen kantorku, dia tulis : BP : Luar biasanya antrinya&#8230;&#8230;untuk menonton film 2012 di Amplas Jogja. Beberapa temen kantor juga nulis dan cerita hal yang serupa, antri nonton 2012, rencana minggu depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=52&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur, aku sendiri belum sempat nonton film yang bikin heboh ini. (<em>kok bisa tau bikin heboh?</em>) Ya tau hebohnya tu dari status fb temen kantorku, dia tulis :</p>
<h3>BP : Luar biasanya antrinya&#8230;&#8230;untuk menonton film 2012 di Amplas Jogja.</h3>
<p>Beberapa temen kantor juga nulis dan cerita hal yang serupa, antri nonton 2012, rencana minggu depan pada mau nonton film yang sama. Tergerak juga aku untuk googling dan cari tau tentang 2012. memang, aku pernah dengar kalo kiamat akan datang di 2012. Tapi kurang puas dengan pengetahuan itu, aku googling juga.</p>
<p>Uhmmmm ternyata kehebohan manusia tentang 2012 adalah karena ramalan suku Maya yang terkenal paling jago ngeramal dimana beberapa ramalannya dari jaman batu dulu sudah terbukti benar satu per satu. Mengangguk-angguk baca beberapa web yang mengunggah catatan tentang ramalan kalender suku Maya, aku justru tertarik untuk membuka link dengan judul &#8221; Suku Maya Menampik Ramalan 2012 &#8220;  setelah dibaca, ternyata suku Maya tidak pernah meramalkan bahwa bumi akan berakhir. Tapi, itu hanya sekedar tahun pengulangan penciptaan. Entah apa maksudnya, tapi sepertinya itu bukan benar-benar ramalanj mengenai hari kiamat yang ditakutkan manusia.</p>
<p>Jawaban dari googling yang aku lakukan tidak sia-sia. setidaknya aku dapat jawaban yang memuaskan (<em>dan melegakan</em>) dari artikel berjudul &#8221; NASA Luncurkan Halaman Situs Bantahan Kiamat 2012 &#8220;. Dari situs ini, aku menemukan bahwa NASA menyatakan bahwa pada tanggal 21 &#8211; 12 &#8211; 2012, planet akan sejajar, juga matahari dan pusat galaksi dan itu akan menabrak bumi adalah penuturan yang keliru. Karena setiap tahun setiap bulan Desember, bumi memang selalu sejajar dengan matahari. Terbukti bahwa tidak ada kiamat setiap bulan Desember kan ?</p>
<p>Nah, di status facebookku pagi ini, aku tulis begini :</p>
<h3><a href="http://www.facebook.com/chitraverdiana?ref=mf">Chitra Verdiana</a> ngapain sih pada heboh 2012 kiamat ?? inget, kita punya Tuhan, dan ketika Tuhan berkehendak, kapanpun waktunya, kiamat berarti yang terbaik untuk seluruh manusia.. percayalah, Tuhan adalah sutradara hidup terbaik dengan ending terbaik untuk setiap manusia&#8230;</h3>
<p>memang langsung ada beberapa komen yang rata-rata mengiyakan statusku.</p>
<p>Sudahlah, ga usah resah sama ramalan itu. Menurut akal sehatku, manusia tak akan ada yang mampu memprediksikan kapan kiamat datang. Kok rasanya aneh aja, manusia bisa meramalkan kiamat. Kenapa <em>nggak </em>meramalkan kapan matinya dia sendiri biar dia bisa siap-siap menebus dosa dan beramal sebanyaknya agar <em>ngga </em>masuk neraka ?</p>
<p>Uhmm&#8230; satu hal lagi, kiamat atau tidak, itu adalah rahasia Tuhan. Terserah Tuhan, kapan Ia berkehendak, maka terjadilah&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi teman-teman<em> (setidaknya yang mampir ke blog ini), </em>sudahlah, jadikan itu peringatan saja bahwa bumi memang sudah semakin panas karena kita selalu pake plastik sembarangan, pake hairdryer tiap mau berangkat kantor, pake hairspray tiap mau party, atau kita selalu biarin charger tetep nyolok meski hape kesayangan kita udah fully loaded. Bumi makin panas dan global warming bukan sekedar issue, tapi ancaman. Cuma kita yang bisa hentikan.</p>
<p>So, daripada mumet cari cara buat migrasi ke bulan besok tahun 2012, mending selesein tu kerjaan yang numpuk di meja. Toh kapanpun harinya, itu sudah ketentuan Tuhan. Inget, Tuhan adalah sutradara terbaik untuk segala cerita kehidupan manusia dengan memberikan ending yang terbaik pula&#8230;</p>
<p>Semoga kita bisa saling mengingatkan untuk selalu memperbaiki diri, lepas dari 2012 akan benar-benar terjadi atau tidak.. Just love and enjoy your life&#8230;</p>
<p>Have a nice blogging.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=52&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/11/15/film-kiamat-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Permintaan Papaku</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/10/24/ini-permintaan-papaku/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/10/24/ini-permintaan-papaku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama aku nggak ngisi blog ini.. bukannya males tapi aku sibuk dan ternyata pekerjaan ini benar-benar menyita waktu aku. Sepulang kantor, aku sudah terlalu malas untuk menyalakan komputer dan menulis celotehan-celotehan aku.&#160; Malam tadi pun sama, saat aku menulis ini, punggung aku sudah terasa lelah. Rencana ke toko buku untuk membeli sebuah buku tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=48&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama aku nggak ngisi blog ini.. bukannya males tapi aku sibuk dan ternyata pekerjaan ini benar-benar menyita waktu aku. Sepulang kantor, aku sudah terlalu malas untuk menyalakan komputer dan menulis celotehan-celotehan aku.&nbsp; Malam tadi pun sama, saat aku menulis ini, punggung aku sudah terasa lelah. Rencana ke toko buku untuk membeli sebuah buku tentang software pendukung harus aku batalkan mengingat hujan sepertinya benar-benar ingin meyetubuhi bumi malam ini.</p>
<p>Lantas apa yang membuat aku akhirnya membiarkan jari-jari aku menyusun kata-kata ini dari keyboard komputerku dirumah? Papa. Ya alasannya, papa aku yang meminta aku menuliskan sesuatu tentang anaknya.</p>
<p>Uhmm… agak aneh dan janggal rasanya waktu papa menyampaikan maksudnya. Begini ceritanya :</p>
<p>Tempo hari, menjelang jam kerja usai, aku menyelesaikan pekerjaan terakhir hari itu dengan membereskan kertas yang mulai menumpuk. Beberapa berkas penilaian karyawan yang seharusnya sudah selesai aku rekap terpaksa tertunda karena beberapa hal yang penting yang harus aku kerjakan. Aku masih punya waktu sekitar 10 menit untuk mematikan komputer, namun niat itu aku urungkan lantaran aku ingat tulisan kakak aku di donnyverdian.net tentang tamagochi dan ulang tahun aku yang ditulisnya Mei lalu. Mata aku menelusur beberapa arsip di halaman webnya. Niat mencari tulisan tentang ulang tahun itu kembali aku urungkan, dan aku justru membuka tulisan tentang papa. Sepertinya sama dengan tulisan tamagochi ulang tahun yang ia tuliskabn saat hari ulang tahunku, “ Yang Satu Ini Untuk Ayahku “ juga ia tuliskan sebagai hadiah ulang tahun untuk papa September lalu.</p>
<p>Aku sudah pernah membacanya, kali ini aku hanya ingin mencetaknya, lalu aku bawa pulang, untuk aku berikan pada papa. Saay yakin, papa pun pasti tersentuh ketika membaca tulisan ini.</p>
<p>Seperti biasa, papa menjemput aku di halte bus dekat rumah. Sesampainya di rumah, ketika ada mama di ruang tengah sambil meletakkan dua gelas the hangat dimeja, aku mengangsurkan kertas hasil print out blog kakak aku.</p>
<p>Aku : Pa, ni tadi <i>tak </i>print-in tulisan mas Donny di blognya.</p>
<p>Papa : <i>wajah bengong</i></p>
<p>Aku : Ini pa.. ini ditulis udah lama, waktu papa ulang tahun, tapi aku baru print sekarang.. baca aja pa, aku <i>meh </i>mandi <i>sik.</i></p>
<p>Papa : <i>opo to iki ? </i></p>
<p>Mama : <i>opo to pa? seko blog-ke donny to? Aku wis moco kui.. </i>( <i>ujar mama sambil menyipitkan matanya dari tempatnya berdiri )</i></p>
<p>Aku beranjak ke kamar mandi, dan meninggalkan papa sendirian di ruang tengah. Mama ke dapur, mengambil kopi untuknya sendiri.</p>
<p>Selesai mandi, kertas yang tadi aku bawakan untuk papa, sudah terlipat rapi di meja tulis belakang sofa tempat papa duduk. “ Lho, kok nggak dibaca to pa?? “ tanya aku pada papa.</p>
<p>“ <i>uwis</i>.. “ jawabnya singkat. Ia menjawab sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.</p>
<p>“ yee.. dibawain malah reaksi<i>ne </i>gitu <i>tok “ </i>ujarku sambil melenggang ke kamar.</p>
<p>Tak lama aku kembali ke ruang tengah, nimbrung papa yang sedang nonton TV One. Sambil ber-sms, aku dan papa saling diam. Sekitar setengah jam papa tetap diam. <i>Jangan-jangan papa ga suka ya aku print itu.. </i>ujar suara kecil di dalam hati saya.</p>
<p>Tiba-tiba “ Chit, kamu gitu juga bisa nulis di blog? “ tanyanya.</p>
<p>“ Bisa pa, <i>lha </i>kenapa <i>e </i>? “ tanyaku.</p>
<p>“ Papa tadi <i>mbrebes </i>baca itu, papa inget waktu masmu berangkat ke Sydney.. “ lalu sambungnya “ <i>Mbok </i>kamu nulis di blogmu, tulis kalo masmu itu bla..bla..bla.. “</p>
<p>Jadi, permintaan papa itulah yang membuat saya meluangkan waktu untuk menuliskan ini.</p>
<p>Mas Donny, meskipun ia adalah seorang yang <i>nyentrik, </i>aneh, dan agak <i>nyeleneh</i>, tapi buat papa, seorang Donny adalah anak yang sangat ‘dekat’. Mengapa saya menyertakan tanda ‘ .. ‘ ? karena secara fisik, memang mereka tidak dekat. Persis seperti apa yang mas Donny tuliskan di blognya. Namun, kedekatan mereka berdua secara emosional sangatlah erat. Bahkan melebihi kedekatanku dengan papa.</p>
<p>Kedekatan itu terasa saat kakakku masih kecil ( saat itu aku belum ada ). Ini beberapa cerita kedekatan mereka yang papa ceritakan padaku malam itu dengan mata yang menerawang dan <i>ehem… </i>sedikit berkaca-kaca.</p>
<p>Cerita pertama. Waktu itu, hujan deras aku didalam perut mama sekitar 7 bulan. Sudah hampir malam, dan papa belum juga pulang ke rumah kontrakan kami yang pertama di Kauman, Kebumen. Mas Donny menangis dan meminta mama mengantarnya ke kantor papa. Mama yang sedang hamil besar mungkin sebenarnya malas keluar rumah karena hujan dan perutnya yang semakin berat. Namun tangis anaknya itu membuatnya mengalahkan segalanya. Berbekal payung dan jaket sekenanya, mama mengantar Donny kecil ke jalan besar. Sesampainya di kantor pos, beberapa ratus meter dari rumah kami, papa yang sedang mengendarai motornya berpapasan dengan mereka berdua, lalu memboncengkan mereka samapi ke rumah. Sesampainya diu rumah, papa menenangkan Donny kecil yang masih saja khawatir karena keterlambatan papanya pulang.</p>
<p>Menurut cerita mama dan papa, tangisan Donny kecil saat itu kira-kira begini</p>
<p>“Ma, papa belom pulang, pasti kecelakaan dijalan …. Ayo di susul kedepan ma … “ begitu tangisnya. ( <i>uh… kakaku ini ga peduli dengan aku yang masih ada di perut mama saat itu</i>… à mungkin begini gumamku saat aku didalam perut mama )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita kedua. Kejadiannya sama, ketika papa pulang terlambat, tiba-tiba sesampainya di rumah, mama bercerita pada papa kalau anak sulung mereka nangis sesorean hingga malam itu karena salah satu teman mainnya menakut-nakutinya dengan berkata, begini kira-kira …</p>
<p>“ Don, papamu <i>nek mulih telat kui kecelakaan nang ndalan lho Don, kowe ra nduwe bapak meneh.. “ </i>(Don, papamu kalau pulang terlambat itu kecelakaan dijalan lho Don. Kamu ga punya bapak lagi..)<i></i></p>
<p>Papa menghampiri putra sulungnya dan menenangkannya dengan menjelaskan bahwa ia pulang terlambat karena tugas luar dan memakan waktu perjalanan yang lama. ( <i>pa, anak kecil kok dijelaskan pakai logika.. mana ngertiii..</i> kalo aku ada saat itu, pasti itu yang kukatakan pada papa… hakakakakakak )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita ketiga. ( <i>astaga… aku belum juga lahir?? Ohmaigaddddd kok kakakku ini kaya anak tunggal aja sihhh</i>… L )</p>
<p>Waktu itu keluarga papa belum punya mobil. Setiap hari raya Idul Fitri, papa, mama dan Donny kecil berkunjung ke rumah Eyang di Blitar, Jawa Timur. Mereka memilih untuk naik kereta karena lebih aman dan santai daripada bus. Namanya aja kereta ekonomi ( <i>jaman itu belum ada kereta Argo ya mas ?</i> ), tiap stasiun pasti berhenti. Entah di stasiun keberapa, papa turun ke stasiun untuk membeli rokok, atau minum, atau majalah, atau sekedar buang air. Si mama dan Donny kecil tetap duduk di dalam kereta, menjaga barang bawaan, dan kursi yang mereka duduki. Mama tetap duduk tenang memangku Donny kecil yang mulai kelihatan gelisah. Donny kecil terus melihat ke luar gerbong dan mulai panik bertanya pada mamanya “ Ma, papa <i>endi kok ra munggah-munggah</i> ma? <i>Engko nek keri pie</i>? <i>Ki sepure wis meh mangkat</i> .. “ ( Ma, papa mana kok nggak naik-naik ? Nanti kalau ketinggalan gimana ? Kereta ini sudah hampir berangkat lagi “ ) Memang saat itu papa sudah tidak terlihat lagi dari gerbong kereta yang penuh sesak. Mama tetap tenang, dan berusaha menenangkan Donny kecilnya.</p>
<p>Sampai kereta benar-benar berangkat, papa tak kunjung datang ke kursi mereka. Donny kecil semakin panik, dan menangis pelan. Dahinya mulai berkeringat. Sampai tiba-tiba papa muncul dan duduk bergabung lagi bersama mereka. Donny kecil mengehmbuskan napasnya lega dan bergumam di pangkuan papa..</p>
<p>“ <i>Tak kiro papa keri</i> .. “ ( Aku kira papa ketinggalan ) sambil tersungging senyum manja dibibirnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yah, semua cerita diatas itu aku tulis berdasarkan cerita dari dua orang yang paling aku percaya, Mama dan Papa. Bagaimana tidak kupercaya, saat itu, aku belum muncul di dunia. Entah kenapa, mungkin aku memang tidak dimunculkan dulu agar aku bisa menceritakan semua ini pada teman-teman. Setidaknya lewat tulisan yang acak-acakan ini, teman-teman mas Donny bisa tau, sebesar apa sayang mas Donny ke Papanya, dan seberapa dekat dan erat batin mereka terikat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah kalau ada yang bilang, ayah dan anak laki-laki tak akan bisa dekat. Buktinya, mereka … J Semoga, tulisan ini bisa mengembalikan hubungan yang (mungkin) renggang antara para anak laki-laki dengan para ayah di beberapa tempat dan beberapa segi kehidupan yang ada. Gengsi bukanlah alasan untuk tak memperbaiki hubungan yang tak pernah berakhir ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>How I love you Brother and Dad..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=48&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/10/24/ini-permintaan-papaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>berbahagia atau membahagiakan ?</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/07/03/berbahagia-atau-membahagiakan/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/07/03/berbahagia-atau-membahagiakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 06:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[berbahagia yang saya maksud berarti KITA berbahagia atas sesuatu yang bisa membuat kita merasa demikian. sedangkan membahagiakan berarti kita melakukan sesuatu agar ORANG LAIN bahagia.. dua kata yang memiliki banyak makna ini terlintas di benak saya ketika salah satu teman kantor saya menceritakan sebab musabab kenapa ia mengakhiri hubungan dengan calon tunangannya. si pacar ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=44&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>berbahagia yang saya maksud berarti KITA berbahagia atas sesuatu yang bisa membuat kita merasa demikian. sedangkan membahagiakan berarti kita melakukan sesuatu agar ORANG LAIN bahagia..</p>
<p>dua kata yang memiliki banyak makna ini terlintas di benak saya ketika salah satu teman kantor saya menceritakan sebab musabab kenapa ia mengakhiri hubungan dengan calon tunangannya. si pacar ini ternyata dipaksa orang tuanya untuk menerima lamaran mantan yang membuat orang tuanya merasa berhutang budi. saya bisa merasakan sakit hatinya ketika sekilas saya melihat matanya. sebentar memang, namun saya bisa melihat kesedihan yang mendalam dihatinya. meski di depan teman yang lain ia berusaha tetap senyum, namun di balik candanya pun, saya tetap bisa merasakan bebannya&#8230;</p>
<p> </p>
<p>pembicaraan di YM kami sampai saat ia berkata bahwa ia sudah lelah untuk terus berkorban dan membahagiakan orang lain tanpa ia merasakan kebahagiaan.  kami berbeda pendapat.</p>
<p>menurut saya, membahagiakan dan berbahagia adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dan harus berjalan beriringan. menurut saya, seseorang akan menemukan kebahagiaannya setelah membahagiakan orang lain. sedangkan menurut teman kantor saya ini, seseorang harus berbahagia dulu sebelum membahagiakan orang lain.</p>
<p>uhmmm&#8230;. sejenak saya berpikir, dan kemudian saya berkata &#8220;jadi membahagiakan dan berbahagia seperti kuliah ya, membahagiakan adalah mata kuliah pra syarat sebelum kita mendapatkan kebahagiaan.. &#8220;</p>
<p>dari pemikiran itulah saya jadi menyimpulkan bahwa membahagiakan atau berbahagia, tentang mana yang lebih dulu harus kita lakukan adalah tergantung bagaimana sifat dasar kita sendiri..</p>
<p> </p>
<p>saya adalah orang yang lebih memilih diam daripada harus &#8216;ribut&#8217; dengan orang lain. karena itulah saya bilang saya akan mendapatkan kebahagiaan saya ketika saya sudah membahagiakan orang lain..</p>
<p>sedangkan untuk orang lain yang lebih berani mengambil resiko daripada saya pasti akan memilih membahagiakan diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain..</p>
<p> </p>
<p>keduanya tak ada yang salah, karena masing-masing mempunyai kelebihan untuk bertindak. saya lebih memilih membahagiakan orang lain terlebih dahulu karena saya yakin, kebahagiaan saya sudah ada jatahnya, tak akan dirusak dan tak akan terbuang atao expired jika saya membahagiakan orang lain dulu..</p>
<p>begitu juga dengan teman saya ini, ia lebih memilih dirinya lebih dulu bahagia karena menurutnya ia akan lebih bisa membahagiakan orang lain ketika ia sendiri sudah berbahagia, benar adanya.. kaena ketika kita berbahagia kita tak akan punya beban untuk membahagiakan orang lain..</p>
<p> </p>
<p>yah&#8230; memang perbedaan ini pula yang Tuhan beri kepada kita saat kita lahir..</p>
<p>mungkin tentang perbedaan persepsi kebahagiaan ini hanya seujung kuku daripada perbedaan tentang kepercayaan dan politik. besar atau kecilnya ukuran sebuah perbedaan, tergantung bagaimana kita menyikapinya&#8230;</p>
<p> </p>
<p>kalau saya, memandang perbedaan sebagai sebuah proses untuk mendapatkan saya yang lebih bermutu, bermakna bagi orang lain, dan berbahagia karena menerima perbedaan mereka..</p>
<p> </p>
<p>have a nice blogging.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=44&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/07/03/berbahagia-atau-membahagiakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hargai orang lain please&#8230;.</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/06/13/hargai-orang-lain-please/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/06/13/hargai-orang-lain-please/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 09:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[apa salahnya menghargai orang lain? semua itu demi reputasi kita sendiri kok... trust me...<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=38&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siang ini seperti siang yang lainnya. tetap sama, saya tetap saya, dan komputer di hadapan saya tetap monitor dengan chasing hitam, sama seperti kemarin.<br />
yang sedikit membedakan adalah beberapa tumpuk kerta dimeja saya yang menunggu untuk di rekap ke dalam satu tabel yang entah disebelah mana ujungnya. dan yang sedikit membedakan adalah peran saya yang (sepertinya) kembali direndahkan. dicari cari kesalahannya, dan dianggap anak-baru-yang-gak-tau-apa-apa meskipun saya hampir satu bulan di lingkungan yang baru ini.</p>
<p>hufhhh&#8230;<br />
saya rasa tak perlu untuk saya mendeskripsikan siapa yang merendahkan saya, yang mencari-cari kesalahan saya, yang menganggap saya anak-baru-yang-gak-tau-apa-apa.. terlalu bodoh kalau saya beberkan semuanya.</p>
<p>saya hanya berpikir, kenapa ada orang seperti dia yang menganggap dirinya tidak pernah menyakiti orang lain (begitu yang ia katakan beberapa waktu yang lalu) padahal ia mengucapkan itu hanya selang beberapa jam setelah menyindir dan benar-benar meremehkan saya. yang saya lakukan saat itu hanya membalas perkataannya yang menyakiti perasaan saya dengan senyum dan pergi.</p>
<p>siang ini terulang lagi. oke, fine kali ini hanya lewat telepon, tapi dari nada suaranya pun, saya bisa &#8216;membaca&#8217; apa yang ada di pikirannya. dan saya pun bisa membayangkan, bagaimana ekspresi mukanya saat ia berbicara dengan saya. saya juga nyaris bisa mengira-ira apa yang ia gumamkan setelah menutup telepon dari saya yang diakhirinya tanpa ucapan terimakasih atau basa basi yang paling basi sekalipun.<br />
sakit hati saya untuk mengingatnya.</p>
<p>tapi, terlintaskah dipikirannya apa yang saya rasakan setelah sikapnya pada saya yang dianggapnya anak-baru-yang-gak-tau-apa-apa ??<br />
sadarkah ia, bahwa anak-baru-yang-gak-tau-apa-apa ini juga punya rasa yang bisa terluka??<br />
taukah dia bahwa apa yang ia lakukan hanyalah menghancurkan reputasinya sendiri??</p>
<p>hufhhh&#8230;.<br />
Tuhan, says sudah merelakan kejadian tempo hari saat ia meremehkanku,<br />
saya juga sudah mencoba sabar dengan tetap memberinya senyuman sesaat setelah ia puas meremehkanku,<br />
bahkan tadi pun, saya tetap menganggapnya orang yang harus disegani ketika saya tetap mengakhiri telepon dengan sepatah kata &#8216;terimakasih&#8217; dan seberkas senyum meski sikap dan cara bicaranya sangat menyakiti saya&#8230;</p>
<p>Tuhan, saya cuma bisa berusaha membuktikan, bahwa anak-baru-yang-gak-tau-apa-apa itu punya kemauan untuk berusaha dan mau memaksa otaknya untuk terus bekerja meskipun kondisi seperti ini (mungkin) akan terus saya rasakan&#8230;</p>
<p>doa saya, semoga ia, tidak bersikap yang sama kepada semua orang, karena perbuatannya itu, akan ia tuai di kemudian hari..</p>
<p>doakan saya Tuhan, agar saya kembali merasa nyaman di sini, ditempat dimana Tuhan sudah tentukan untuk tempat saya bekerja&#8230;.</p>
<p>AMIN&#8230; :&#8217;(</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=38&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/06/13/hargai-orang-lain-please/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>menang ! !</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/05/14/menang/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/05/14/menang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 16:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Siapapun ingin jadi pemenang dalam 'kompetisi' di hidupnya . . .<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=34&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Menang….</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Setiap orang dalam setiap hal baik pasti ingin menang. Waktu kecil ikutan lomba makan kerupuk contohnya, kita pasti ingin jadi pemenang (asal ga kaya kakak saya yang menang tapi giginya nyangkut raffia, alhasil, ke dokter gigi deh… ;p). Waktu ikut lomba melukis, juga pasti kita ingin jadi pemenang. Meskipun gambar kita kaya ceker ayam dan ga pernah dapet nilai purrfect untuk pelajaran menggambar. Trus waktu kita ikut lomba balap karung atau balap bakiak kelompok, kita berusaha ngatur tim kita biar tampil sempurna dan disebut sebagai pemenang di akhir acara. Dan tentunya berbagai macam kompetisi lain yang kita ikuti. Pasti, banyak dari kita yang ingin keluar sebagai pemenang. Bukan untuk mendapat pujian dan kemudian di elu-elukan, tapi untuk mendapatkan kepuasan pribadi atas hasil yang udah mati-matian kita capai.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Kemenangan itu, bisa jadi adalah penghargaan untuk diri sendiri. Karena itu akan berbuah pengalaman, dan cerita yang mungkin bisa menggugah orang lain tentang perjuangan kemenangan kita.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Bukan Cuma dalam lomba, kompetisi, atau kuis saja kita bisa keluar sebagai pemenang. Dalam tiap masalah yang dihadapi dalam hidup kita itu juga merupakan kompetisi yang harus kita menangkan. Apalagi kalau dalam masalah itu kita dihadapkan dalam pilihan yang sulit, waktu pada akhirnya kita berhasil </span></span><span style="font-size:x-small;">ambil </span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">keputusan yang benar, tentu saja kita ngerasa puas dan nambah satu pengalaman yang nantinya mungkin bisa kita ceritakan ke orang yang ngalamin hal yang sama.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Waktu kita memutuskan, kita tentu saja keras berpikir. Dan saat eksekusi pilihan itu, bisa jadi kita juga mati-matian melaksanakannya, atau malah kita melaksanakan dengan diam dan hanya mengamati. Eit… diam dan mengamati itu juga merupakan suatu pilihan loh. Sampai saat ini, saya berani bilang kalo untuk beberapa masalah, diam dan mengamati serta menjalani apa adanya seolah tidak ada yang terjadi adalah keputusn terbaik. Kenapa? Karena saya, beberapa waktu yang lalu memilih untuk mengambil keputusan itu, dan sekarang, saya sedang menikmati kemenangan itu.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Mungkin di beberapa tulisan saya di awal, blogger yang mampir ke blog saya sudah bbisa menyimpulkan betapa saya terluka dan tersakiti, juga terpuruk tahun lalu. Itulah ‘kompetisi’ yang saya akan ceritakan disini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Seorang (dulu) sahabat saya punya pacar yang sangat dia banggakan di depan kami (saat itu saya bersahabat dengan empat orang teman kuliah saya). Everything that her boyfriend do, she told to us!! Reaksi saya dan dua dari teman saya itu adalah : MUAK! (dua teman karena satu dari mereka adalah sepupu si mantan sahabat saya dan tidak mungkin berkomentar buruk tentang calon saudara iparnya).</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Ya, kami bertiga muak! Bukan, bukan karena kami iri dengan surprise party yang sempat dibuatkan pacarnya di ulangtahunnya ke 21, atau iri karena sebuah boneka teddy bear sebesar beruang beneran hadiah Valentine dari pacarnya nangkring manis di kasurnya, bukan juga karena iri lantaran pacarnya yang bersedia jemput kuliah pagi meskipun rumah si mantan sahabat saya ini berada diujung jogja.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Kami muak karena si pacar ini adalah cowok genit dan cowok paling pinter bersandiwara atas beberapa perselingkuhan yang dia lakukan! Iya! BEBERAPA! Saya ga salah ketik! Dia beberapa kali ketahuan selingkuh dan si selingkuhan ini adalah temen-temen kami sendiri! Yang bikin kami tambah muak adalah sahabat kami yang jadi bodoh karena cintanya yang ga penting itu ke cowoknya yang amit-amit </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"><em>liar-</em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">nya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">(hufh… emosi ni nulisnya!!!).</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">nah, entah kenapa, si pacar ini tiba-tiba curhat sama saya soal mantan sahabat saya ini. Karena ceritanya mengindikasikan hal buruk, saya cerita donk sama dua sahabat saya yang lain… saya tanya ke temen saya ini, what should I do… what should I do when I know that someone try to ‘kill’ my best friend… dan usul dari dua sahabat saya ini adalah terang-terangan cerita ke mantan sahabat saya ini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Singkat ceita, saya ceritain semua, mereka memang sempet putus, tapi kemudian balik lagi karena si cowok yang rajanya sandiwara ini, berhasil mencuci otak si sahabat saya yang bodoh karena cinta ini dengan omongan kalo SAYA adalah orang yang IRI dengan hubungan mereka! (Helloooooo… seorang chitra yang WARAS, ga pernah iri dengan hubungan yang selalu ditutupi kebohongan! Diselingkuhin kok mau!!) ok fine! Saya terima aja. Jadilah tahun kemarin tahun terburuk bagi saya. Ditinggalin pacar, difitnah sahabat sendiri, di teror via sms, dilirik sinis oleh beberapa teman yang ikut terhasut si raja sandiwara itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Purrfect! It’s really complete me!!!</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Waktu itu, saya hampir depresi. Dua sahabat yang minta saya untuk membuak semua cerita itu justru kabur dan meminta saya berbaikan dengan si mantan sahabat ini! WHAT?!!!! Jawaban saya saat itu adalah gelengan keras dan dengan bulatnya menyatakan ‘Dia ga pernah ada dalam hidupku! Sekarang, dan selamanya!’</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Jujur saya terguncang dengan kejadian ini. Saya tiba-tiba dimusuhi oleh dunia saya sendiri. Akhirnya, ditengan depresi itu, saya memutuskan untuk diam dan tidak menghiraukan semua omongan miring tentang saya. Yang saya lakukan saat itu hanyalah diam, dan melanjutkan hidup saya seolah-olah saya memang tidak pernah kenal dengan dua makhluk paling serasi ini (gimana ga serasi? Yang satu </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"><em>liar, </em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">yang satu </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"><em>totally stupid</em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">! KLOP kan??).</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Temen-temen yang tidak terlalu mengenal saya ada yang terhasut omongan si </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"><em>liar </em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">ini dan percaya omongannya. Waktu ketemu dan papasan dengan mereka, saya yang niat menyapa, malah disuguhi tampang sinis dan bibir yang menyudut tajam. Grhhhhhhhh… rasanya pengen marah, pengen jelasin apa yang sebenernya terjadi. Dan pengen teriak didepan mereka “KALIAN GA TAU APA-APA, MENDING DIEM AJA DEH!!!!!”</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Tapi saya terus mencoba untuk sabar dan nge</span></span><span style="font-size:x-small;">-</span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">rem emosi saya. Karena saya tau, tak banyak yang bisa saya lakukan di posisi seperti itu selain diam, dan tetep baik ke temen-temen yang lain. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Berbulan-bulan saya melakukan itu. Berusaha hidup normal meski segalanya sudah tidak normal, berusaha tersenyum meski segala yang terjadi terlalu menyedihkan untuk dapat mengangkat sudut bibir saya ke atas, dan tetap berbuat baik pada mereka yang terhasut meski tangan ini ingin membekap mulut mereka dan meminta waktu untuk menjelaskan kebenarannhya. Semua saya jalani dengan berat. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Kadang saya berpikir kalau diam, bukanlah jalan terbaik. Tapi pikiran itu sgera lenyap ketika saya melihat sedikit perubahan dari sikap teman-teman saya. Perlahan, mereka yang dulu ikut memusuhi justru datang kepada saya dan menunjukkan sikap ‘kita mulai dari awal ya Chit…aku pengen tau kamu yang sebenarnya</span></span><span style="font-size:x-small;">, aku nggak percaya omongan dia</span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">…’  Saya yang didatangi tentu saja menyambut baik kedatangan mereka </span></span><span style="font-size:x-small;">yang </span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">kembali dalam kehidupan saya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Seiring berjalannya waktu, akhirnya publik menunjukkan penilaian mereka terhadap saya. Sampai saat ini, yang terjadi justru mereka semua kembali berteman dengan saya dan mereka mulai meninggalkan fitnah-fitnah yang sempat mencuci otak mereka. Dan yang terjadi saat ini, justru dua sejoli yang sangat serasi itu yang kehilangan teman-temannya. Disatu kesempatan, di pernikahan salah satu teman kami, mereka berdua datang, dan ketika menunggu giliran untuk masuk gedung, kami ngobrol seru, dan mereka berdua, hanya berdiri disudut pintu masuk, berdua, tanpa tawa dan cerita.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Beberapa waktu yang lalu, teman saya menyapa lewat yahoo messenger, dan tiba-tiba bertanya ‘Chit, kamu pernah ga ngalami sesuatu yang benar-benar kamu artikan sebagai kemenangan?’ saya dengan mantapnya menjawab ‘Pernah. Waktu itu aku memenangkan sesuatu yang aku menangkan dengan diam.’  saat ini saya menang. Menang karena Natal Desember kemarin, si cowok ini mengirim sms berupa permohonan maaf atas seluruh kesalahannya yang benar-benar telah menghancurkan hidup saya itu. Dan kemarin, saat saya terkena Demam Berdarah di rumah sakit, seorang sahabat saya, menitipkan ucapan segera sembuh dari si mantan sahabat saya ini. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Itulah, kadang diam memang bisa memenangkan suatu kompetisi. Diam tanpa memberikan perlawanan, dan diam untuk membalas semua perbuatan buruk. Diam dan menjalani segalanya seperti tidak ada sesuatu buruk yang menimpa kita. Diam dan tetap menjaga image yang seolah telah remuk, namun sebenarnya hanya terguncang.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">Diam yang saat itu saya pilih, adalah diam yang dilandasi dengan prinsip ‘Biarka</span></span><span style="font-size:x-small;">n</span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"> publik yang menilai, apapun yang terjadi, aku harus berbuat baik pada setiap orang’. Terlepas dari berapa banyak orang yang memfitnah kita</span></span><span style="font-size:x-small;"> (asal kita diposisi yang benar dan tidak melakukan kesalahan)</span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">, percayalah, </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"><em>someday</em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID">, </span></span><span style="font-size:x-small;"><em>they will back into our life</em></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="id-ID"> dan memohon maaf atas apa yang telah terjadi. Memaafkan atau tidak? Itu kembali ke diri kita masing-masing.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Have a nice blogging! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=34&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/05/14/menang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelangi . . .</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pelangi/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 15:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[pelangi itu sudah berubah image di mataku . . .<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=29&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pelangi sering diibaratkan sesuatu yang indah dalam konteks beberapa kata penghiburan, seperti ‘<em>Tuhan selalu memberi pelangi disetiap hujan seperti tawa disetiap tangisan</em>’, atau ‘<em>untuk seseorang, kita harus bisa menjadi pelangi saat badai datang menghampirinya</em>’ dan masih banyak lagi . . .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dulu, saya selalu mempunyai kesan sendiri terhadap munculnya pelangi. Waktu saya masih kecil, di Sekolah Minggu, seorang suster menyuruh anak muridnya menggambar keindahan alam yang diciptakan Tuhan, saya menggambar sebuah gunung (yang saat itu digambar oleh hampir semua anak TK diseluruh dunia dengan bentuk segitiga samakaki) berikut jalan yang melengkung dan sebuah pelangi tiga warna, merah-kuning-ijo… dan kalau ditanya suster pengajar saya, saya menjawab “Pelangi itu luncuran buat para malaikat untuk datang ke bumi Sus…” </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> Jadi, sejak kecil saya menganggap pelangi adalah ‘jembatan’ untuk malaikat datang ke bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Setelah sedikit dewasa, saya tau kalau pelangi itu hasil pembiasan antara uap air dan sinar ultraviolet yang membentuk spektrum warna yang terdiri dari tujuh warna yang disebut mejikuhibiniu –MerahJInggaKUningHIjauBIruUngu- (penjelasan berikutnya saya kurang tau karena fisika bukan pelajaran favorit saya </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">). Tapi di otak saya tetap terekam bahwa image pelangi adalah baik.. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Tapi, segala image itu sudah berubah sekarang. Sadis memang kalau saya menghapuskan segala image pelangi yang baik dan yang sudah tertanam sejak saya masih polos dengan satu kejadian yang benar-benar menggerus hati dan perasaan saya. (<em>sebelum saya bercerita, saya harus minta maaf kepada Pacar saya, ‘aku ga ada maksud apa-apa nulis ini nay, Cuma karena lagi hujan, inspirasi tentang pelangi ini muncul… dia dalam cerita ini Cuma tokoh pelengkap saja buat ngasih kesan penguat ke postingan ini’</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Seseorang yang pada akhirnya menjadi kepingan masa lalu yang benar-benar saya buang jauh dibelakang, mengawali untuk membuka hati saya dengan percakapan singkat tentang pelangi. Saat itu dia bilang bahwa ia percaya kalau pelangi membawa kabar baik dan ketika kita <em>make a wish </em>saat pelangi itu muncul, permintaan kita pasti dikabulkan. Jadilah saat itu saya membuat sebaris singkat permohonan konyol ( Konyol karena memohon sesuatu kepada pelangi . . . </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">). Sejak saat itulah kami dekat dan dia berhasil mengambil hati saya, memilikinya, kemudian meremukkannya dan menghempaskannya jauh kedalam, yang kemudian hanya mampu menyisakan genangan air mata dan sebuah luka yang mendalam untuk saya nikmati seiring kepergiannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dan sejak saat itu pula, setiap pelangi muncul menghiasi langit setelah hujan turun membasahi bumi, saya hanya mencibiri kedatangan pelangi, lalu kemudian merasakan benci saat kejadian itu terulang kembali dalam ingatan saya. Dalam hati saya selalu berkata bahwa dia hanya pelangi dalam hidup saya yang hanya datang sebentar saja, untuk memberi sedikit keindahan, lalu kemudian menghilang meninggalkan kehampaan dan kekosongan setelah matahari kembali bersinar. Matahari yang kini ada dan berhasil menyingkirkan pelangi itu, sekaligus membuat semua awan gelap dalam hidupku menyingkir dan pergi jauh dari kehidupan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">This posting maybe describe how I love you now, NAY . . .</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=29&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pengen jadi apa kamu ?</title>
		<link>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pengen-jadi-apa-kamu/</link>
		<comments>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pengen-jadi-apa-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 15:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chitra verdiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pengen-jadi-apa-kamu/</guid>
		<description><![CDATA[image, bisa kita bangun sendiri dari cara wajah kita berekspresi . . .<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=26&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mantan tentu saja bukan sekedar teman yang numpang lewat saja dalam hidup kita. Bisa jadi berawal dari teman, status si teman di depan kita bisa berubah jadi ‘mantan’ ketika kita pernah punya hubungan dengan dia. Entah Cuma HTSan, atau memang pacaran, atau bahkan selingkuhan … (selingkuhan bisa dibilang mantan bagi saya, RED.).<br />
Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba si pacar, HTSan, atau si selingkuhan ini pergi dari kita dan dia meninggalkan perasaan yang mendalam, juga luka sebagai embel-embelnya. Meskipun ga semuanya ninggalin luka, tapi posting saya ini mau ngomongin yang meninggalkan luka aja deh. Selain luka ini pernah saya alami sendiri, tapi temen-temen saya yang dateng ke saya dengan air mata berlinang untuk si mantan, selalu menjadi topik menarik untuk dibicarakan. Yah, walaupun saya Cuma berani membicarakan ini dengan tulisan yang sudah saya lock di komputer saya, tapi jujur, cerita semacam ini sengguh-sungguh menarik. Apalagi kalau sudah sampai saat teman saya menceritakan bagaimana dia ingin terlihat di hadapan si mantan.<br />
Maksudnya begini, seiring berjalannya waktu, luka yang ditinggalkan mantan tentu saja sembuh dan kita seolah bisa bangun dari mimpi buruk. Kita bisa berhenti menangis semalaman, dan kita tidak lagi melihat pantulan wajah sembab kita didepan cermin. Namanya juga proses pembelajaran, banyak dari kita yang (pada akhirnya) menyadari bahwa kepergian si mantan bukanlah akhir dari segalanya. Saya pribadi mendapati diri saya jauh lebih baik dan jauh lebih berkualitas begitu luka dari si mantan sembuh dan saya berhasil menyingkirkan rasa sayang saya untuknya. Dunia yang memang sempit, sering membuat kita secara gak sengaja harus ketemu, baik itu Cuma sekedar papasan, atau bahkan kita harus berhubungan lagi dengan si mantan yang sudah mati-matian kita lupain. Bisa itu karena memang kita satu ampus dengan dia, satu lingkungan kerja, atau tiba-tiba kita ketemu dia waktu kita harus ngurus sesuatu. Hufh….. Asli males banget harus ada di lingkungan yang sama lagi dengan dia~ <br />
Beberapa teman yang datang ke saya nunjukin reaksi yang beda-beda setelah dia ketemu mantannya. Si A misalnya, dia biasa banget setelah ketemu mantannya walaupun belum lama mereka putus. Lain si B, dia jadi muram sepanjang hari bahkan sampe nangis setelah ketemu mantannya. Eh, lain lagi si C, dia cerita dan dari ceritanya saya bisa simpulkan kalau dia bangga bisa nunjukin kalau hidupnya baik-baik saja setelah ditinggalkan si mantan. Malah, si C ini menunjukkan kesan kalau dia jauh lebih cantik, jauh lebih baik, dan jauh lebih bahagia ketika ketemu si mantan. (Saya sependapat dengan si C!)<br />
Sebenernya, pengen terlihat seperti apa sih kita waktu tiba-tiba ketemu si mantan? Yang jelas disini kita ga punya banyak waktu untuk menata hati kita yang masih dag dig dug der saat eye contact dengan si mantan. Jadi, gimana kita mau terlihat di depan si mantan yang bener-bener tergantung ma kondisi hati kita sebenernya. Ga mungkin donk kita terlihat cantik dan bahagia kalau waktu ketemu si mantan kita menatapnya dengan mata menerawang dan mata yang seolah berkata ‘aku masih sayang sama kamu, kenapa kamu dulu ninggalin aku?’.<br />
Ambil contoh dari teman-teman saya, Si A misalnya, dia ga menunjukkan ekspresi apa-apa waktu dia papasan dengan mantannya. Biasaaaaaaaa banget! Lempeng deh mukanya! Ini obrolan singkat saya :<br />
Saya (S) : eh, tu mantan kamu kan? (setelah at ekspresinya yang datar, saya tanya) perasaan kamu gimana bis ketemu dia?<br />
Teman (T) : Udah netral banget! Lagian, dia udah nyakitin aku banget kok. Ngapain dipikirin.<br />
S : maksud kamu, kamu masih sakit ati gitu jadi ga mau nyapa dia?<br />
T : bukan, sakit atiku juga udah kelewat sakit. Jadi ya mati rasa.<br />
S : dendam?<br />
T : (ngeliat saya dan kayanya mulai sadar ke-oon-an saya) bukan dendam juga sih, apa ya ?? males aja kali. Yanh     pokoknya dah ga da feeling apa-apa gitu.<br />
S : Oooo… (saya Cuma ber-o panjang)<br />
Netral. Ya! Perasaan itu yang saya temui dalam diri teman saya waktu ketemu dengan mantannya. Namanya juga netral, jadi ya gak ada kata-kata lain yang mampu mendeskripsikannya. Pokoknya netral. Gak ada perasaan apapun. Gak ada dendam, gak ada benci, gak ada cinta… Mau si mantan lagi sendirian, atau si mantan sama pacarnya, tetepa aja, netral!<br />
Lain ceritanya dengan Si B yang nagis sejadi-jadinya (pake sesak nafas pula..) setelah ketemu si mantan. Panjang lebar dia cerita, saya Cuma diam. Bukan karena ga tau apa yang harus saya omongin ke dia, tapi karena saya tau, seberapa bijak dan seberapa diplomatis saya bicara, percuma! Dia akan tetap berkubang dalam air matanya, dan tetap saja merasa penderitaannya adalah penderitaan yang orang lain tak pernah rasakan. Grhhhh…. Jengekl sih, tapi gimana lagi? Dia gak minta jadi seperti ini…<br />
Satu yang tertahan dalam hati saya dan saya tidak punya cukup keberanian untuk menyampaikannya, saya pengen bilang :<br />
‘mantanmu sekarang lagi bahagia dan dia GA PEDULI LAGI seberapa banyak air matamu tumpah buat dia!’<br />
‘uda deh, kalo kamu maih sayang BILANG! Dan tanggung sendiri resikonya.’<br />
‘udah dibilang jangan main api, kamu masih nekat, sekarang luka lagi ya udah, itu resikomu.’<br />
‘percuma kamu curhat ma siapapun kalo bukan dari kamunya  yang niat untuk sembuh dari luka itu!’<br />
Dan masih banyak lagi kejengkelan-kejengkelan saya yang muncul ketika teman saya cerita dan menangis. Jengkel karena berkali-kali dia ketemu mantannya, berkali-kali pula dia nangis dan minta nasehat dari saya! Capek mulut ni ngomong… intinya ya dia masih sangat terluka. Dan payahnya, dia gak bisa bangun dan nerima kenyataan kalo si mantan ini sudah menemukan kebahagiaan bersama orang lain dan orang lain itu bukan dia.<br />
Yang dia munculkan justru kesan ‘hidupku hancur setelah kamu tinggalin, lihat aku butuh kamu…’ OHMAIGOD… itu Cuma akan bikin kita dianggap remeh si mantan. Yakin udah siap tanggung resiko diomongin pacarnya mantan kita ini? Pastinya si mantan dan pacarnya Cuma tertawa kecil ngeliat kita seolah berkata ‘udahlah, biarin aja, dia cuma MASA LALU, yang penting KITA SEKARANG BAHAGIA… ’.<br />
Dah, tuh kesan yang ada saat kita lewat di depan si mantan dengan kondisi yang menyedihkan.<br />
Nah, cerita si C ini yang menarik.<br />
Ini obrolan singkat saya :<br />
Saya (S) : itu mantan kamu kan? Kalian sapaan yah? Kok dia ngeliatin kamu gitu?<br />
Teman (T) : hehehehe….  gak, gak sapaan kok, yah ngomong seperlunya aja.<br />
S : oh, dia masih suka yah ma kamu? Dia udah punya pacar bukan?<br />
T : iya. Udah punya pacar, kalo masalah suka apa enggak ga tau ya. Aku ga ngurus juga. Terserah dia.<br />
S : kamu? Ga ada feeling lagi?<br />
T : Gak. (menggeleng mantap dan tersenyum ke arah saya) Aku senyum karena aku ngerasa menang di depan dia. Aku yang dulu dia tinggalin, sekarang bisa tersenyum, bahagia, dan aku yakin, kalo orang bahagia, auranya keluar. Itu ga bisa ditutupin oleh apa pun. At least dia tau, perginya dia bikin aku jauh lebih baik sekarang. Ngerti ?<br />
(teman saya ini tersenyum tanpa beban, dan meninggalkan saya yang ikut tersenyum… hehehe saya sependapat dengan dia!) <br />
Kita, baik cewek maupun cowok, yang ditinggalin dengan segunung luka dan sejuta air mata, tentu saja malu dengan lingkungan sosial kita kalo kita harus muncul dengan mata sembab dan muka murung. Sembuh, kembali bahagia seperti sebelum kenal dia tentu saja jadi keinginan kita. Dan ketika kita sadar dan sembuh dari luka, jujur aja deh, kita pasti nemuin sesuatu yang baru yang positif dari diri kita. Nah, nilai positif kita itu ada dari si mantan yang memberi pelajaran.<br />
Kalau kita cerdas, tampil sebagai sosok yang lebih baik dan lebih bahagia, membuat kita bangga. Apalagi ketika liat reaksi si mantan yang mungkin melongo dengan pikiran ‘ini dia yang dulu aku sakitin? Kayaknya dia udah sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang.. pasti aku ga lebih dari sekedar masa lalu yang pantas dia lupain’.<br />
Yah, meskipun semua reaksi diatas adalah bentuk dari proses pembelajaran, kita harus pintar memilih, mau jadi seperti apa di depan si mantan? Si A, Si B, atau Si C?<br />
Semua itu tergantung kita!</p>
<p>Have a nice blogging . . . </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chitraverdiana.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chitraverdiana.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chitraverdiana.wordpress.com&amp;blog=5513783&amp;post=26&amp;subd=chitraverdiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chitraverdiana.wordpress.com/2009/02/11/pengen-jadi-apa-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39b815e78be22d82a08f116151028bd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chitra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
